[Video] Gagahnya Tank Leopard, Alutsista Terbaru TNI Asal Jerman

Blog Militer Indonesia - Pada 31 Agustus kemarin, sejumlah alutsista TNI - Polri dipamerkan di lapangan Monas, Jakarta Pusat.

Pic shared by detik.

Yang menjadi perhatian tentu saja sosok tank baru milik TNI, yaitu tank Leopard, yang baru dibeli dari Jerman. Mau lihat kegagahan tank yang punya bobot sekirat 60 ton ini? Cek videonya berikut.

Demi Alutsista TNI, Menhan Desak Pemimpin Baru Hemat

Pada 11 Juni 2014, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan harapannya kepada pemimpin Indonesia yang baru supaya tetap mengalokasikan sejumlah dana demi memenuhi kebutuhan alutsista TNI terbaru. "Saya berharap dengan terbentuknya kabinet baru Indonesia bisa ... mengalokasikan dana guna membeli alat sistem utama senjata," katanya di Jakarta.


Mengutip Okezone, telah dilaporkan bahwa sejumlah perlengkapan pasukan maritim dan skuadron Indonesia menerima bantuan. Salah satunya, dari pihak Rusia. Negara yang dijuluki Beruang Merah tersebut sempat melakukan ekspansi Sukhoi ke Indonesia sebagai bentuk bantuan dalam segi pertahanan.

Menurut Purnomo, Rusia sangat terbuka dengan Indonesia untuk membahas masalah pertahanan. Sejauh ini Purnomo pun berharap hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia akan lebih kuat ke depannya.

Usai menjabat sebagai menteri, rencananya Purnomo akan berhenti terlibat sebagai menteri pertahanan apabila kembali ditunjuk oleh Presiden Indonesia yang baru. Dirinya justru mengharapkan adanya regenerasi menteri, khususnya dalam bidang pertahanan.

Sumber: Okezone

Menjelang Pergantian Kabinet, Penyelesaian Pengadaan Alutsista TNI Diprioritaskan

Pada 10 Juni 2014, Menhan Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa menjelang masa akhir jabatannya akan diprioritaskan penyelesaian pengadaan alutsista TNI, administrasi, dll. "Praktis untuk belanja modal pengadaan alutsista bisa diselesaikan. Kedua yang akan diselesaikan adalah soal administrasinya, misal kontrak," ujarnya kepada wartawan di Gedung Kemenhan, Jakarta. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa tak ada persoalan jika alat utama sistem senjata yang sudah dibelanjakan dikirim selepas tahun 2014.

Selain dua persoalan di atas, Purnomo Yusgiantoro mengatakan akan merampungkan produk strategis 3 bulan terakhir masa jabatan sembari mempersiapkan bahan awal untuk kabinet berikutnya (2015-2019). "... Namun, nanti bisa diubah sesuaikan kemauan kabinet baru," tuturnya.

Menjelang Pergantian Kabinet, Penyelesaian Pengadaan Alutsista TNI Diprioritaskan

Mengutip Republika, di samping itu, ia mengatakan  tahun 2013 ini, pihaknya menerima laporan keuangan opini WTP murni dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ia mengingatkan agar bisa mempertahankan tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya. "Walaupun pada 2013 kemarin, waktu diperiksa untuk tahun 2012, kita mendapat WTP dengan catatan," ungkapnya.

Menurutnya, WTP dengan catatan itu dikarenakan pihaknya mengalami kesulitan di Simak BMN. Ia mengatakan perlu tanggung jawab untuk mempertahankan lagi (WTP murni). Dalam pemeriksaan laporan keuangan tersebut dilakukan 80 hari. "Kita berbahagia, akan tetapi di sisi lain masih ada perjuangan dan perjuangan lebih sempurna biasanya lebih sulit," katanya.

Alutsista Indonesia di Uji Taktis Jelang Latgab 2014 di Asembagus

Pada 31 Mei 2014, telah digelar uji taktis pra-latihan gabungan 2014 TNI di Pusat latihan pertempuran Marinir V Baluran, Asembagus, Situbondo, Jatim. Walaupun Latgab 2014 baru akan digelar tanggal 4-5 Juni, pada uji taktis tersebut militer Indonesia telah memakai peluru dan amunisi yang sebenarnya antara satu kesatuan dengan kesatuan lainnya.

Berikut foto-foto penampakan alutsista Indonesia di uji taktis yang telah dilakukan, sebagaimana dilansir oleh Antara dan Republika.

Mobilisasi Udara

Alutsista Indonesia di Uji Taktis Jelang Latgab 2014 di Asembagus

Pergerakan Kompi Mekanis


Panser Anoa


Uji Tembak Meriam

Idealnya Anggaran Perawatan Alutsista Indonesia Sebesar 10% Anggaran TNI

Pada 27 Mei 2014, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa anggaran ideal merawat serta memelihara alutista Indonesia adalah sebesar 10% anggaran total TNI. "Sekarang baru 5-6%," katanya menyatakan selesai uji-coba misil Astros II di Formosa, Brasilia, Brasil.

Idealnya Anggaran Perawatan Alutsista Indonesia Sebesar 10% Anggaran TNI

Di samping soal anggaran, Sjafrie juga mengatakan jika TNI juga memerlukan peningkatan anggaran untuk BBM dan pelumas alustista. Pihak TNI sampai kerap berutang BBM sebesar Rp 3 triliun untuk menutupi kebutuhan yang mencapai Rp 6 triliun lebih per tahun. Saat ini yang baru bisa dipenuhi adalah sebesar Rp 2 triliun lebih per tahun.

Mengutip Metro (27/5), kebutuhan BBM untuk alutsista Indonesia memang cukup tinggi. Contohnya, kapasitas solar untuk kendaraan peluncur misil Astros yang baru dibeli TNI dari Brasil mencapai 280 liter per kendaraan. Bila di tangki tersisa 25 liter sampai 50 liter harus diisi penuh kembali.[kr]

Penandatanganan MoU Pembangunan Pabrik Propelan Mendukung Industri Pertahanan Indonesia

Pada 26 Mei 2014, telah ditandatangani nota kesepahaman (Mou) antara PT. Dahana dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Perancis untuk membangun pabrik propelan di Subang, Jabar, untuk mendukung industri pertahanan Indonesia. Perwakilan dari Kemenhan turut hadir untuk menyaksikan penandatanganan tersebut, yang mengharapkan groundbreaking sebelum bulan Oktober mendatang.

"Diharapkan groundbreaking sebelum HUT TNI, ini sebagai kado, sebelum tanggal 5 Oktober," tukas Silmy Karim, staf Ahli KKIP Bid. Kerjasama & Hub. Antarlembaga Kemenhan, sebagaimana dikutip oleh Okezone.com (26/5).

Penandatanganan MoU Pembangunan Pabrik Propelan Mendukung Industri Pertahanan Indonesia

Dalam penjelasannya, Silmy mengatakan bahwa kedua negara melalui tiga perusahaan tersebut juga akan memberikan nilai-nilai strategis. Khususnya, sistem pertahanan berbasis teknologi yang dimiliki masing-masing negara. "Ke depan, nilai strategis dari Perancis, banyak peluru kendali dari Perancis, ada transfer teknologinya," imbuh Silmy.

Tak cuma itu, dengan ditandatanganinya MoU pembangunan pabrik propelan ini berarti secara tidak langsung memberikan pembuktikan Indonesia mulai memasuki zaman kemandirian, khususnya di bidang industri militer Indonesia. Karena selama ini, bahan baku amunisi (propelan) 100 persen mengimpor dari Belgia.

"Ini akan menjadi lokal konten, sebab propelan-nya diproduksi sendiri. ... Indonesia telah memasuki era kemandirian. Sudah selesai bagi kita untuk membeli barang. Kita bangun alat pertahanan bangun sendiri. Kita tengah menuju ke sana sekarang, makanya kita mulai,"
pungkas Silmy.[]

Putra Mahkota Brunei Jajal Rantis dan Senapan Ss 2 Tipe V 5 Buatan PT. Pindad

Pada 6 Mei, setelah mendapatkan penghargaan sebagai warga kehormatan Korpaskhas, Pangeran Al Muhtadee Billah, Putra Mahkota Brunei Darussalam, mendapat kesempatan melakukan uji coba kendaraan Taktis (rantis) 4x4 Komodo tipe intai produksi PT. Pindad. Selain itu, Pangeran Al-Muhtadee Billah juga berkesempatan menjajal senapan SS 2 tipe V 5 Silencer - yang lagi-lagi juga hasil produksi PT.Pindad. Pangeran terkesan setelah menjajal dan menguji sendiri rantis serta senapan.


Peninjauannya ke PT. Pindad ini merupakan tindak lanjut dari ketertarikan Brunei Darussalam akan produk Alutsista besutan PT.Pindad, setelah partisipasi PT. Pindad dalam Brunei Internasional Defence EXPO (BRIDEX) Febuari silam. Kunjung ini juga merupakan langkah awal menjalin persahabatan dan kerjasama dua negara antara Indonesia - Brunei Darussalam.

Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses

Pada 6 Maret 2014, telah berhasil dilakukan uji coba penembakan Rhan - roket Indonesia 122 mm buatan LAPAN melalui kendaraan militer buatan anak-anak Indonesia. Uji coba ini dilangsungkan di Garut, Jawa Barat.

Balitbang Kemhan sukses melakukan uji coba kendaraan buatan PT Pindad dan konsorsium lainnya, termasuk PT AIU dalam mendesain kendaraan militer ini demi mengusung Multi Launcher Rocket System (MLRS), Rhan berdiameter 122 mm. Bisa juga disebut roket LAPAN.

Kendaraan militer ini belum begitu menggaung namanya. Kecuali diberitakan jika mesinnya memakai Mercedes dan kemungkinan kedepan menggunakan mesin Jepang (tergantung pilihan pengguna). Apapun mesin maupun namanya, kita nantikan peresmiannya oleh Kemhan kedepan.

Ini adalah kemajuan anak bangsa dalam proses mencapai kemandirian demi tercapainya kebutuhan alutsista Indonesia.

Berikut Foto-foto penampakan Kendaraan berserta Ujicobanya diposkan Supermarine dari website PT AIU.

Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses

Pengadaan Alutsista TNI Gagal, Komisi I DPR RI Sesalkan Kegagalan Pemerintah

Pada 25 Februari 2014, Komisi I DPR RI sesalkan kegagalan pemerintah dalam melakukan amanah rencana strategis dari Kemenhan untuk pengadaan alutsista yang memang dibutuhkan militer Indonesia. Tubagus Hasanuddin selaku Wakil Ketua Komisi I DPR menyatakan bahwa rencana strategis Kemenhan sudah dikepreskan dan penambahan dana sebesar Rp 50 triliun untuk periode 2009-2014. Tapi hingga kini belum bisa terbeli anggaran itu belum turun seluruhnya. "Pemerintah hanya mampu mengadakan alutsista TNI sebesar Rp 23 triliun," ungkap Hasanuddin.

Pengadaan Alutsista TNI Gagal, Komisi I DPR RI Sesalkan Kegagalan Pemerintah

Sisanya sebesar Rp 27 triliun belum bisa dibayarkan lantaran alasan situasi keuangan negara sedang tidak menguntungkan. "Negara tak punya duit. Risikonya target minimum essential force tak tercapai," ungkapnya.

Dalam kacamata Hasanuddin, sebenarnya hal seperti ini memerlukan political will dari presiden, supaya masalah tersebut tidak diwariskan kepada pemerintah selanjutnya. Yang paling disesalkan, lanjutnya, adalah dari Rp 23 triliun yang sudah diprogramkan, pemerintah belum membayar Rp 1,1 triliun untuk cicilan yang jatuh tempo April 2014. Padahal kontrak sudah diteken dan proses pengadaan bertahap sudah dijalankan.

Dengan pembayaran sebagian besar sudah masuk, ada potensi kerugian besar bila kontrak tak dipenuhi. Komisi I DPR sendiri sudah mendesak agar dicarikan dana itu, namun Kemenkeu sudah menyatakan sikap "lempar handuk". "Saya melihat ada mismanajemen, bagaimana kebijakan kepala negara tak bisa diteruskan oleh menteri," pungkasnya.

Sumber:
BeritaSatu

Kekuatan Alutsista TNI 2014 Tidak Bisa Dianggap Remeh!

Pada 23 Februari 2014, diberitakan bahwa kekuatan alutsista terbaru TNI terus bertambah dan mulai harus diperhitungkan oleh negara-negara lain, terutama Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro belum lama ini. "Renstra pertama (2010-2014), kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara lantaran pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU, dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru," tukas Purnomo.

Contohnya, kekuatan TNI Angkatan Udara akan terus meningkat. Bahkan, ada 102 alat utama sistem senjata baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014, seperti pesawat tempur F-16, T-50i, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar.

Kekuatan Alutsista TNI 2014 Tidak Bisa Dianggap Remeh!

"Pada 2014 ini, sejumlah pesawat tempur yang telah dipesan akan berdatangan dan semakin memperkuat TNI AU," tukas Menhan, ketika acara serah-terima pesawat tempur T-50i di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Dalam pandangannya, ke-16 unit pesawat tempur ringan bermesin jet T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan itu juga menambah kekuatan alutsista TNI AU.

Pesawat tempur T-50i yang dibeli Pemerintah Indonesia dengan nilai kontrak sebesar 400 juta Dollar Amerika ini akan digunakan sebagai pesawat pengganti Hawk MK-53 yang menjadi bagian dari Skuadron Udara 15, Lanud Iswahyudi Madiun, di bawah Komando Operasi AU-II. "Pesawat ini akan meningkatkan peran TNI dalam mengemban tugas yang lebih besar dalam menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa mendatang," kata Purnomo.

Pesawat T-50i adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea Selatan dan dikembangkan oleh Korean Aerospace Industry dengan bantuan Lockheed Martin. Pesawat ini mampu ditempatkan digaris depan sebagai Light Fighter yang dilengkapi dengan peralatan tempur. (Missile Guided/Unguided, Rocked, Bomb, Canon 20 mm serta radar. "Dengan kehadiran pesawat T-50i tersebut, maka status pembangunan kekuatan matra udara pada renstra 2010-2014 dalam rangka modernisasi alat utama sistem senjata baru, yaitu skadron pesawat tempur strategis Sukhoi telah lengkap sebanyak 16 unit," ujarnya.

Selain itu, lanjut Menhan, tahun ini akan datang pesawat tempur F-16 setara Blok 52 buatan Amerika Serikat sebanyak 24 unit. Sampai awal semester II tahun 2014 akan hadir 16 pesawat tempur Super Tucano untuk melengkapi 1 skadron dalam rangka mendukung operasi pengamanan dalam negeri. Di samping itu, juga akan segera tiba UAV (pesawat terbang tanpa awak) untuk mengisi skadron UAV dalam rangka memperkuat operasi pemantauan perbatasan yang dipusatkan di Lanud Supadio Pontianak.

Menhan juga mengungkapkan, untuk pesawat angkut sedang, secara berurutan telah tiba di Indonesia sebagian besar dari 9 unit pesawat CN-295 yang merupakan hasil kerjasama produksi antara PT DI dengan Airbus Military dan rencananya akan menjadi 1 skadron CN-295, dan 2 unit CN-235 serta 1 unit Casa-212 untuk angkut ringan. Dalam rangka mendukung kegiatan airlif dan OMSP, telah dilakukan penambahan kekuatan sebanyak 9 unit pesawat angkut berat Hercules C-130H yang sudah mulai tiba secara bertahap.

TNI AU juga telah menerima dan mengoperasikan pesawat latih lanjut KT-1B Wong Be buatan Korea Selatan yang digunakan oleh Tim Aerobatik TNI AU, Jupiter sebanyak 1 skadron. Selain itu, peremajaan pesawat-pesawat latih TNI AU telah dilakukan dengan mengganti pesawat latih T-34 C dan AS-202 Bravo yang sudah berusia sekitar 30 tahun dengan pesawat latih generasi baru yaitu Grob G-120 TP buatan Jerman sebanyak 18 unit yang direncananya akan menjadi 24 unit. Menhan menambahkan, untuk rotary wing, telah ditambah beberapa jenis Helikopter yaitu Helly Super Puma NAS-332 sebanyak 3 unit dan Helly Full Combat SAR EC-725 Caugar dari Euro Copter sebanyak 6 unit.

Sedangkan untuk pertahanan udara nasional, telah diperkuat dengan pengadaan PSU (Penangkis Serangan Udara) sebanyak 3 batere/6 firing unit buatan Rainmetall Air Defence Switserland untuk satuan-satuan di Korps Paskhas TNI AU 7 unit radar canggih yang telah dan akan dipasang di beberapa lokasi antara lain Merauke, Saumlaki, Timika dan Morotai. Khusus TNI Angkatan Darat, selain membeli 114 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder akan tiba sebelum bulan september 2014.

Demikian pula dengan Meriam Caesar, dimana dari 37 unit, 4 unit diantaranya akan tiba sebelum Oktober 2014. Sementara untuk roket MLRS Astros II akan tiba 13 unit sebelum Oktober 2014. Masih dari TNI-AD, rudal pertahanan udara jenis Starstreak serta Mistral dijadwalkan juga tiba sebelum Oktober 2014, khususnya Mistral akan datang sebanyak 9 unit pada Juni 2014.

Sementara itu untuk matra laut, terdapat Upgrade Kapal perang korvet kelas Fatahillah, Kapal latih pengganti KRI Dewaruci, pengadaan 2 unit Kapal Hidro Oceanografi, dan lain lain. Untuk tank amfibi BMP-3F sebanyak 37 unit, beberapa diantaranya sedang dalam proses uji terima. Sementara panser amfibi BTR-4 sebanyak 5 unit, dimana 2 unit diantaranya akan tiba di tanah air pada September 2014.

Target MEF 42 PERSEN

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menargetkan tahun 2014 ini kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) pada rencana strategis I dapat mencapai 40-42 persen. "MEF pada 2013 telah lampaui target 28,7 persen. Pada 2014 diharapkan mencapai 40-42 persen," kata Panglima TNI, selepas membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2014 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Masyarakat Indonesia bisa melihat sendiri bagaimana kekuatan alutsista TNI 2014 ini, diantaranya adalah sejumlah Alutsista yang akan datang pada tahun ini untuk memperkuat matra darat, laut dan udara. Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal dapat dilakukan pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan pada 2024. Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019).

Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan sebuah terobosan dan keberhasilan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan. Anggaran pertahanan pada 2013 mencapai Rp 77 Triliun, namun pada 2014 ini meningkat menjadi Rp 83,4 Triliun.

Transformasi TNI AD

TNI Angkatan Darat (AD) akan lebih memfokuskan diri untuk melakukan transformasi organisasi pada 2014 ini guna menghadapi rencana strategis II periode 2015-2019. "Transformasi ini akan disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis yang mungkin dihadapi Indonesia pada lima hingga sepuluh tahun ke depan. Hal ini dilakukan agar TNI AD semakin profesional dan mampu menjawab tuntutan dan perkembangan jaman," kata Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman usai membuka Rapat Pimpinan (Rapim) 2014 TNI AD, di Markas Besar TNI AD, Jakarta.

Pertambahan alutsista membuat TNI AD harus segera mendesain ulang organisasi. Jika dulu TNI AD hanya memiliki meriam 105 mm yang jarak ledaknya hanya 12 kilometer, saat ini sudah memiliki meriam 155 mm dengan daya jangkau 42 kilometer. TNI AD juga sudah memiliki Multilauncher Rocket System (MLRS) dengan daya jangkau hingga 100 kilometer. "Kita juga punya tank (Leopard) yang kapabilitasnya luar biasa," ujarnya.

Ada pula penangkis serangan udara yang kemungkinan perkenaannya mencapai 96 persen. Semua itu bisa didapat walaupun anggaran belanja pertahanan Indonesia masih kurang dari satu persen GDP. "Bahkan, kita sudah bisa membuat beberapa alutsista sendiri," ucapnya.

Sumber:
Antara

EC-725 Cougar, Alutsita Indonesia Terbaru untuk Squadron Helikopter Baru TNI AU

Pada 23 Februari 2014, diberitakan bahwa TNI Angkatan Udara menambah satuannya (skuadron), yakni Skuadron 9. Ini merupakan upaya TNI AU untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam menjaga pertahanan Tanah Air, baik melalui pelatihan rutin maupun pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) terbaru.

Nantinya, menurut rencana, Skuadron 9 (skad) akan ditempatkan di Subang/Kalijati, Jawa Barat untuk tugas SARPUR (Safe and Resque Tempur). Alutsista terbaru Indonesia yang dipilih untuk mengisi skuadron ini adalah 16 helikopter canggih EC-725 Cougar asal Eurocopter.

"Skad 9 adalah skad baru yang berkedudukan di Lanud SDM Subang/kalijati dengan kekuatan 16 pesawat cougar full combat," kata Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, Kadispen TNI AU, sebagaimana dikutip Liputan6.com.

Pihak TNI AU sudah menandatangani pembelian 6 unit dengan Eurocopter lewat PT. Dirgantara Indonesia sejak Maret 2012. Helikopter ini dijadwalkan akan menjadi alutsista Indonesia tahun 2014. Sedangkan, 10 unit sisanya baru akan dipesan tahun 2015 ini.

"Rencana menjadi kekuatan squadron udara 9 lanud SDM, akan tiba secara bertahap pada tahun 2015 dengan kekuatan satu squadron," kata Hadi Tjahjanto lebih lanjut.

EC-725 Cougar, Alutsita Indonesia Terbaru untuk Squadron Helikopter Baru TNI AU

EC-725 Cougar atau super Cougar merupakan helikopter transportasi jarak jauh yang bisa memuat 29 penumpang beserta 2 crew. Heli multi-role ini dilengkapi teknologi canggih seperti LCD multi fungsi 6"x8" pada cockpit, terintegrasi dengan peta digital/peperangan elektronik, full glass cockpit, dan lain-lain.

EC-725 Cougar menggunakan mesin ganda yaitu 2x Tubomeca Makila 1A4 tuboshafts dengan kecepatan maksimum 324 km/jam (175 kts) dan dapat mengudara selama 6 jam lebih. Selain Indonesia, negara-negara yang telah menggunakan EC-725 Cougar adalah Perancis, Brazil, dan Malaysia.

Helikopter canggih ini bisa juga dipersenjatai dengan gun pod dan roket pod. Untuk melindungi diri, terdapat pelapis baja untuk pilot dan co-pilot dan juga senjata berkaliber 7.62 mm atau 12.7 mm.

Pemilihan EC-725 Cougar karena selama ini TNI AU telah terbiasa menggunakan produk dari Eurocopter. Selain itu, spesifikasinya sudah sangat memenuhi syarat TNi AU.

"Karena kita sudah terbiasa dengan produk Perancis. Dan ini merupakan kerjasama PT DI dengan Eurocopter. Spek untuk combat SAR sudah terpenuhi," pungkas Hadi.

Lanud Adisucipto Menerima Empat Pesawat Latih

Pada 20 Februari 2014 dikabarkan jika tim akrobatik udara TNI AU Jupiter Aerobatic Team (JAT), tiba kembali di home base Landasan Udara (Lanud) Adisutjipto. Delapan pesawat KT-01 Wong Bee ini selanjutnya akan menempati shelter Wingdik di Skadik 102.

Kedatangan JAT ke Lanud ini merupakan pertama kali sejak mengikuti ajang Singapore Airshow 2014, yang berlangsung di Bandara Changi 11 hingga 16 Februari. Dan mengisi acara Gebyar Dirgantara tanggal 18 Februari 2014 di Palembang.

Lanud Adisucipto Menerima Empat Pesawat Latih

Pesawat ini sempat tertahan beberapa hari di pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma. Hal ini dikarenakan guyuran abu yang mendera DI Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Kedatangan pesawat yang didominasi warna merah putih yang dipimpin oleh Kol Pnb Wahyu Anggono, SE. Serta Flight Leader adalah Mayor Pnb Ferry Yunaldi ini, disambut oleh Komandan Wingdik Terbang Kol Pnb Ir Bob H Panggabean.

Selain kedatangan tim akrobatik kebanggaan Indonesia, Lanud Adisutjipto juga menerima empat unit pesawat latih jenis Grob G120TP-A. Pesawat buatan Jerman ini merupakan upaya untuk modernisasi Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI AU. Direncanakan, Angkatan Udara akan memunyai 18 pesawat berjenis Grob.

18 pesawat ini diserahkan secara bertahap oleh Kementerian Pertahanan RI. Pada 2013 silam, telah diserahkan 10 armada Grob. Penyerahan ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat latih yang lama.

Sementara ini di Skadik 102 Lanud Adisutjipto, telah memiliki 14 pesawat Grob. Empat sisanya akan diterbangkan dari Lanud Halim tanggal 21 Februari 2014.

Sumber:
Tribunnews

KRI Banjarmasin 592 Angkut Tujuh Alutsista Buatan Banyuwangi

Pada 7 Februari 2014, KRI Banjarmasin 592 berlabuh di Dermaga Tanjung Wangi, Kec. Kalipuro, Kab. Banyuwangi. Kapal kebanggaan produksi dalam negeri itu berlabuh di Banyuwangi untuk mengangkut 4 unit kapal jenis Combat Boat Catamaran dan 3 unit speed boat yang dipesan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut lewat PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi.

Tujuh alat utama sistem senjata (alutsista) itu akan didistribusikan ke sejumlah perairan di wilayah barat Indonesia.

Perwira Pelaksana (Palaksa) KRI Banjarmasin 592 Mayor (P) Mohammad Nizarudin di geladak E (bridge deck) menguraikan, ketujuh alutsista terbaru TNI ini akan dikirim ke Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai Asahan di Sumatera Utara, Lanal Ranai di Kepulauan Riau, kepulauan Natuna dan Lanal Tarempa di Batam dan sejumlah perairan di Kepulauan Natuna.

KRI Banjarmasin 592 Angkut Tujuh Alutsista Buatan Banyuwangi

"Untuk didistribusikan ke pulau-pulau luar bagian barat, memperkuat keamanan wilayah laut," jelas Nizarudin.

Setelah menyelesaikan tugas mendistribusikan alutsista, sambung Mayor Nizar, KRI Banjarmasin 592 dengan ABK 145 orang itu juga mempunyai misi lain. Yaitu untuk mengikuti Komodo Multilateral Exercise di perairan Kepulauan Riau yang digelar Maret hingga April 2014 mendatang.

"Selepas pendistribusian alutsista selesai, kami mengikuti pelatihan komodo juga," tutupnya.

Sementara itu, Pendiri PT Lundin Industry Invest Lizza Lundin saat dikonfirmasi detikcom menolak memberikan keterangan lebih lanjut perihal pemesanan alutsista TNI AL tersebut. Kepada detikcom, Lizza hanya meninggalkan pesan singkat yang menunjukkan bahwa dirinya sedang berada di luar kota untuk kepentingan bisnisnya.

"Maaf, saya lagi di Jakarta ada rapat, lewat sms saja," pesannya.

Saat detikcom bertandang ke lokasi perusahaannya yang berlokasi di Jalan Lundin 1, Kelurahan Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, detikcom juga belum berhasil mendapatkan keterangan.

Namun, informasi yang berhasil di himpun di lapangan, saat ini PT Lundin memiliki 16 produk kapal dengan kategori kapal militer, komersial, rekreasi dan kepentingan SAR. Perusahaan yang telah memiliki cabang di Singapura ini memberi nama North Sea Boats pada semua produk buatannya.

Hasil produksi kapal yang didirikan pada 2011 lalu itu ternyata banyak diminati di luar negeri. Semisal kapal rekreasi yang dikirim ke Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Australia, Dubai, hingga Eropa.

Selain bermitra dengan TNI AL, PT Lundin yang telah mengantongi ISO 9001-2008 itu juga telah menjalin kerjasama dengan Badan Koordinasi Keamanan Laut, Badan SAR Nasional, serta berbagai organisasi konservasi. Selain pasar dalam negeri, kapal militer buatan PT Lundin juga dipercaya memperkuat alutsista Australia, Belanda, Hongkong, Kamboja, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Swedia, dan Arab Saudi.

Sumber:
Detik

Ada Kemungkinan Timor Leste Membeli Alutsista Indonesia

Pada 10 Februari 2014, Xanana Gusmao selaku Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Timor Leste tidak pungkiri bila negaranya akan membeli alutsista Indonesia. "Ya, mungkin senjata, mungkin amunisi. Kenapa tidak? Kita, kan, tetangga. Kalau boleh dibilang, kita bahkan bersahabat," jelas Xanana di Kemenhan.


Mengutip Solopos, Xanana berharap untuk bisa membangun kekuatan militer untuk mempertahankan wilayah Timor Leste. Karena itu, pembelian alutsista didasari oleh harapan Xanana tersebut. “Kita membeli apa yang kita butuhkan untuk membangun kemampuan angkatan darat kami,” imbuh Xanana.

Xanana Gusmao menyambangi Kemenhan Indonesia sebagai bentuk tindak lanjut dari memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani kedua pihak tahun 2012 silam di Dili. Dalam pertemuan bilateral ini, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro dan Xanana Gusmao membahas mengenai kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan, kerjasama militer angkatan darat, laut, dan udara, serta kerja sama industri militer.

Militer Indonesia: Pilih Kapal Selam Rusia atau Turki?

Berita militer Indonesia - Mahfud Siddiq selaku Ketua Komisi I DPR RI mengatakan jika pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan hendak membeli kapal selam mana, buatan Rusia atau Turki? Pembelian ini terkait program untuk memenuhi kekuatan persenjataan minimum menjaga wilayah perairan Indonesia dengan sedikitnya 12 kapal selam.

Militer Indonesia: Pilih Kapal Selam Rusia atau Turki?

"... sedikitnya 12 kapal, untuk mengcover 3 ALKI di wilayah selatan dan sebagian wilayah utara...  Sekarang ini, ... bersama Korsel, kita ada kontrak tiga kapal selam dan kalau kita akan lihat kontrak produksinya itu akan selesai 2018," demikian politisi PKS mengungkapkan selepas rapat dengan Menteri Luar Negeri, sebagaimana dilansir Terapos.

Mahfudz menyatakan pembuatan kapal selam Changbogo ketiga yang akan dibuat di Indonesia membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit. Karena itu, opsi tercepat adalah membeli jadi.

"... Ada dua penawaran antara Rusia kilo klas dan Turki... Dari Komisi I, kita akan kirim orang ke Rusia dan Turki untuk ngecek... Untuk kilo klas sangat memungkinkan untuk dipakai di tiga ALKI wilayah bagian selatan," pungkasnya.

Daftar Negara Pemakai Pesawat Tempur F-16 di Seluruh Dunia

Jika ditanyai sebuah pertanyaan: siapa pengguna pesawat F-16 saat ini?

Apa yang ada di dalam benak anda?

Rupanya, ada beberapa negara ASEAN yang menggunakan pesawat F-16 Fighting Falcon besutan General Dinamics ini, yakni: Thailand, Singapura, dan Indonesia. Jenis F-16 yang dipakai memiliki beragam varian tipe dan sistem kesenjataan.

Daftar Pemakai Pesawat Tempur F-16 di Seluruh Dunia
Gambar pesawat tempur F-16A.

Pun demikian, pesawat tempur F-16 yang dipakai Singapura jauh lebih baru dibandingkan F-16 yang dipakai oleh militer Indonesia. Skuadron Udara 3 TNI AU masih memakai F-16 yang dibeli sejak tahun 1980-an yaitu blok 15 (F-16A OCU dan F-16B OCU), sedangkan Angkatan Udara Singapura memakai F-16 blok 52 (F-16C dan F-16D). Tapi, bukan hanya Indonesia yang memakai pesawat F-16 blok 15 (F-16A dan F-16B). Ada USAF, US Navy, Pakistan, dan Thailand yang juga memakainya.

Di dunia alutsista, khususnya pesawat, F-16 adalah yang paling laris. Sejak rilis 1974, pesawat ini sudah terjual 4.500 unit lebih. Hingga tahun 2010, ada 24 negara yang tercatat pernah membeli dan mengoperasikan F-16. Tiga negara diantaranya diberi izin untuk mengembangkannya, yaitu Israel, Korsel, dan Jepang.

Israel "menciptakan" varian baru, yaitu: F-16A Netz, F-16B Netz, F-16C Barak, dan F-16D Barak (dari blok 30 dan 40), dan F-16I Soufa bagi Israel. Korsel "menciptakan" varian baru, yaitu: KF-16C dan KF16D dari blok 52. Dan Jepang yang membuat Mitsubishi F-2 berdasarkan pengembangan F-16 untuk Japan Air Self-Defence Force.

Daftar negara pemakai pesawat tempur F-16 yang dilansir General Dinamics:

Amerika Serikat
United States Air Force: F-16B blok 15 dan 20, F-16A blok 20, F-16C dan F-16D blok 25, 30, 32, 40, 50, dan 52)
Air Force Reserve Command (F-16C dan F-16D blok 25. 30. 40. dan 42)
Air National Guard (F-16C dan F-16D blok 25, 30, 40, 42, 50, dan 52)
US Navy (NF-16D VISTA/MATV blok 30, QF-16, F-16A OCU dan F-16B OCU blok 15)
Bahrain
(Royal Bahrain Air Force: F-16C dan F-16D)
Belanda
(Royal Netherlands Air Force: F-16AM dan F-16BM)
Belgia
(Belgian Defence Air Component: F-16AM dan F-16BM)
Chile
(Chilean Air Force: F-16AM, F-16BM, F-16C dan F-16D dari blok 50M)
Denmark
(Royal Danish Air Force: F-16AM dan F-16BM)
Indonesia
(TNI AU, F-16A OCU dan F-16B OCU)
Israel
(Israel Air and Space Force: F-16A Netz, F-16B Netz, F-16C Barak, dan F-16D Barak dari blok 30 dan 40), dan F-16I Soufa)
Korea Selatan
(Republik of Korea Air Force: KF-16C dan KF16D dari blok 52, F-16C dan F-16D blok 32)
Mesir
(Arab Republik of Egypt Air Force: F-16A dan F-16B blok 15, F-16C dan F-16D blok 32,40, dan 52+)
Maroko
(Moroccan Royal Air Force: F-16C dan F-16D dari blok 52)
Norwegia
(Royal Norwegian Air Force: F-16AM dan F-16BM)
Kerajaan Oman
(Royal Oman Air Force: F-16C dan F-16D)
Pakistan
(Pakistan Air Force: F-16A OCU dan F-16B OCU blok 15, F-16AM, F-16BM, F-16C, dan F-16D blok 52M)
Polandia
(Polish Air Force: F-16C dan F-16D blok 52+)
Portugal
(Portuguese Air Force: F-16AM dan F-16BM)
Singapura
(Republik of Singapore Air Force: F-16C dan F-16D blok 52)
Taiwan
(Republik of Taiwan Air Force: F-16A dan F-16B blok 20)
Thailand
(Royal Thai Air Force: F-16A ADF dan F-16B ADF blok 15, F-16A OCU dan F-16B OCU blok 15, dan F-16AM)
Turki
(Turkish Air Force: F-16C dan F-16D blok 30, 40, 50, 50M)
Yordania
(Royal Jordanian Air Force: F-16A ADF, F-16B ADF blok 15, F-15AM dan F-16BM)
Uni Emirat Arab
(United Arab Emirates Air Force and Defence: F-16E Desert Falcon dan F-16F Desert Falcon blok 60)
Yunani
(Hellenic Air Force: F-16C dan F-16D blok 30, 50, 52, 52+)
Venezuela
(Venezuelan Military Aviation: F-16A dan F-16B blok 15)

Catatan tambahan:
Mengutip dari Antara, ada beberapa beberapa pengguna tambahan yaitu Angkatan Udara Italia yang pernah menyewa pakai F-16A dan F-16B dari USAF tahun 2003-2012. Selain itu, yang jarang diketahui, NASA juga sempat memakai F-16 dari varian F-16A, F-16D, F-16XL, dan F-16 AFTI, sebagaimana pernah juga dioperasikan operator swasta, Calspan Flight Research, yang mengoperasikan F-16C antara Maret 2009-Juni 2010, di bawah kontrak dengan USAF.

Irak digadang-gadang menjadi operator baru setelah dipastikan memesan F-16C blok 52, demikian juga dengan Rumania yang mengakuisi F-16BM dari Portugal pada kontrak berlaku pada 2017.

Indonesia Telah Merancang Pembangunan Tujuh Alutsista Sendiri

Pada 19 Februari 2014, Laksamana Purnawirawan Sumardjono sebagai Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan menyatakan bahwa Indonesia telah merancang pembangunan tujuh alutsista (alat utama sistem persenjataan) sendiri. Hal ini demi mengembangkan industri pertahanan sehingga bisa memperkuat pengaruh Indonesia di kancah perpolitikan dunia.

"Saat ini kalau kita diembargo maka habislah, tak bisa apa-apa. Negara yang menguasai industri pertahanan akan menentukan peta politik dunia," kata Sumardjono di Jakarta.

Indonesia Telah Merancang Pembangunan Tujuh Alutsista Sendiri
TEMPO/Dasril Roszandi.

Dikutip dari Tempo, Zilmy Karim sebagai Staf Ahli Bidang Kerja Sama Hubungan Antarlembaga Komite mengatakan salah satu dari tujuh jenis alutsista Indonesia yang masuk dalam rencana kemandirian industri adalah kapal selam. Yap, saat ini pembangunan industri kapal selam di Indonesia sudah berjalan.

Selain itu, Komite telah menjalin kerja sama dengan negara lain untuk mengembangkan industri pertahanan berupa rudal atau roket. Indonesia juga berencana mengembangkan teknologi medium tank yang lebih sesuai dengan karakteristik wilayah Tanah Air.

Komite juga sedang mengembangkan industri pesawat tempur tanpa awak (unmanned combat air vehicle-UCAV), atau drone. Selain itu, industri radar teknologi tinggi pun tengah dikembangkan. "Akan kita hasilkan dan jadi fokus dalam sepuluh tahun ini," kata Zilmi.

Indonesia Siap Produksi Kapal Selam Tahun 2018!

Pada 19 Februari 2014, Laksamana Purnawirawan Sumardjono selaku Ketua Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan menyatakan bila Indonesia siap memproduksi kapal selam sendiri pada 2018. Kapal ini rencananya akan diproduksi PT PAL Indonesia, usai menerima kucuran dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan 2014 sebesar US$ 250 juta.

"Untuk luas area 5 juta kilometer persegi, kita butuh 12 kapal selam. Saat ini baru punya dua," tutur Sumardjono di kantor Kemenhan (Kementerian Pertahanan), Jakarta.

Indonesia Siap Produksi Kapal Selam Tahun 2018!
KRI Nanggala 402 | Fahmi, Tempo

Dilansir dari Tempo, komite mengatakan PT PAL telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pelat merah untuk membangun infrastruktur industri kapal selam. Meski dana belum turun, mekanisme kerja samanya telah berjalan, sebab DPR telah meng-acc pengalokasian dana.

Saat ini Komite telah mengirim 206 orang untuk mempelajari pembangunan dan perakitan kapal selam di Korsel. Sumardjono berharap rencana itu bisa lancar, sehingga empat tahun mendatang Indonesia bisa membuat kapal selam sendiri.

Dalam pemberitaan terkait, Zilmi Karim selaku Staf Ahli Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antarlembaga Komite Kebijakan Industri Pertahanan menyatakan bila bea pembuatan kapal selam sendiri jauh lebih murah daripada membeli dari negara lain. Menurutnya, satu produksi kapal selam akan menelan anggaran sampai Rp 3,5 triliun.

Harga dari PT PAL, menurut Zilmi, juga terbilang murah karena di bawah biaya pembangunan kapal selam secara umum. Biaya perakitan kapal selam umumnya sekitar US$ 400 juta, tapi PT PAL dapat menekannya hingga sekitar US$ 250 juta. "Beberapa komponennya sudah ada. Jadi hanya melengkapi," kata Zilmi. [FRANSISCO ROSARIANS]

Sumber:
Tempo

Zilmi Karim: Indonesia Butuh 12 Kapal Selam, tapi Hanya Punya 2 Unit!

Pada 19 Februari 2014, Zilmi Karim selaku Staf Ahli Kementerian Pertahanan bidang Kerjasama dan Hubungan Kelembagaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan menyatakan apabila Indonesia sangat kekurangan armada untuk mempertahankan wilayah laut, khususnya kapal selam. Zilmi mengatakan, "Indonesia membutuhkan 12 kapal selam. Tapi cuma punya 2 unit," tukas Zilmi dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Zilmi Karim: Indonesia Butuh 12 Kapal Selam, tapi Hanya Punya 2 Unit!

Bahkan, dua kapal selam Indonesia yang bernama KRI Cakra dan KRI Nenggala itu usianya uzur. Sebab, kapal buatan Jerman tahun 1980-an itu bakalan pensiun tahun 2020. Hal inilah yang membuat Kemenhan mengupayakan pengadaan kapal-kapal selam baru sebagai salah satu pilar pertahanan laut. Permasalahannya satu, kata Zilmi, harganya sangat mahal.

Karena itu, Zilmi mengharuskan pemerintah Indonesia untuk membangkitkan industri alutsista Indonesia yang bisa membangun kapal, perang dan selam, supaya tidak bergantung kepada negara lain. "Berapa banyak devisa negara yang keluar kalau hanya mengimpor alutsista? Satu kapal selam saja harganya Rp 3 sampai 4 triliun. Kalau industri dalam negeri mandiri, kan bisa ada pemasukan pajak. Industri lain juga tumbuh," tutup Zilmi, sebagaimana dilansir dari Merdeka.

PT PAL Siap Memproduksi Kapal Selam Indonesia

Pada 17 Februari 2014, Komisi Bidang Pertahanan DPR-RI dan pemerintah satu kata terkait penyuntikan dana dalam memproduksi kapal selam di Surabaya, Jawa Timur. Dana senilai US$ 250 juta (Rp 2,5 triliun) akan diberikan kepada BUMN PT PAL untuk dipakai sebagai Penyertaan Modal Negara (PMN) pembuatan kapal selam kelas Changbogo asal Korea Selatan (Korsel). “Komisi I DPR-RI dan pemerintah sepakat bahwa pemenuhan kebutuhan dana penyiapan infrastruktur untuk membangun kapal selam TNI yang ke-3 di PT PAL sebesar maksimal US$ 250 juta, akan dibiayai secara bertahap dengan skema PMN dan akan mulai dianggarkan pada APBN-P tahun anggaran 2014,” kata TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I DPR-RI, ketika Rapat Dengar Pendapat dengan Pemerintah di Jakarta.

PT PAL Siap Memproduksi Kapal Selam Indonesia

Mengutip dari Detik, skema PMN untuk produksi kapal selam mulai dianggarkan pada APBN-Perubahan 2014 - tepatnya mulai April lewat kementerian BUMN. “Selanjutnya pemerintah dengan leading sector-nya kementerian BUMN menyediakan bridging pendanaan selama skema PMN tersebut untuk memenuhi target implementasi yang dimulai pada April 2014,” katanya melanjutkan.

Di tempat yang sama, Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan pembangunan infrastruktur kapal selam akan dilakukan oleh PT PAL yang bekerjasama dengan Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). “Kapal selam Indonesia ini akan dibuat tahap pertama 3 unit, 2 di Korea dan 1 di Indonesia, totalnya nanti akan ada 12 kapal yang dibuat,” kata Purnomo.

Dalam rapat dengar pendapat yang dipimpin oleh TB Hasanuddin diikuti oleh sekitar 20-an anggota DPR. Sementara untuk para Menteri yang hadir antara lain adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Moeldoko.

PT PAL Siap Memproduksi Kapal Selam Indonesia

Sebelumnya, satu dari tiga kapal selam kelas Changbogo yang dipesan Indonesia dari Korea Selatan (Korsel) mulai diproduksi tahun ini di Korsel. Rencananya satu unit lagi kapal selam akan dibuat di Korsel dengan melibatkan BUMN PT PAL. Sedangkan, sisanya akan dibuat di Indonesia sebagai bagian dari program transfer of technology (ToT) untuk Indonesia di galangan PT PAL, Surabaya.

Seperti diketahui Kementerian Pertahanan pada akhir Desember 2011 lalu menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME). Tiga kapal selam ini akan segera melengkapi kekuatan militer dan armada tempur TNI Angkatan Laut.