Foto Ujian Pertama Tank M-113 (Gavin) Alutsista Terbaru TNI

Militer Indonesia - Pasca-perayaan HUT TNI, alutsista terbaru TNI, yakni Tank M-113 yang dipanggil Gavin, langsung mendapatkan ujian ketangguhan pertama di Pusdikkav, Bandung, Jabar. Dalam ujian pertama ini, Gavin berhasil mengatasi segala tantangan yang diberikan dengan baik.

Tantangan ini di antaranya adalah menanjak dengan kemiringan 60 derajat, melewati jalanan tak rata, sampai ujian amfibi. Tank angkut pasukan ini sengaja dibenamkan dalam lumpur lalu direcovery oleh Ranpur sejenis. Semua tantangan ini merupakan refleksi dari kenyataan sesungguhnya yang bakal dihadapi di medan pertempuran lapangan.

Menurut informasi yang dikutip Blog Militer Indonesia dari ARC, kesatuan TNI-AD telah berencana mengakuisisi 80 unit tank M-133. Di mana, nantinya, bersama Marder dan Anoa, tank M-113 akan menjadi inti kekuatan Batalyon Infantri Mekanis. Selain itu, M-113 yang diperoleh TNI-AD ternyata rakitan Belgia. Di mana usia rata-rata M-113 ini cukup muda, yaitu buatan akhir tahun 1980-an. Kelebihan lainnya dari alutsista terbaru TNI ini adalah, karena digunakan negara yang relatif damai, Ranpur ini memiliki usia komponennya cukup panjang. Banyak diantaranya bahkan belum sampai menempuh jarak 10 ribu km.

Selama ini, Belgia menyimpan ranpur-ranpurnya dengan cukup apik, sehingga sangat layak digunakan langsung. Belgia sendiri pernah mengoperasikan hingga lebih dari 500 unit M-113. Belgia juga memodifikasi M-113 miliknya dengan perbaikan suspensi dan proteksi.

Berikut foto-fotonya yang dikutip dari ARC.

Foto Ujian Pertama Tank M-113 (Gavin) Alutsista Terbaru TNI

Perkembangan Industri Alutsista Indonesia Berjalan Cukup Signifikan

Militer Indonesia - Pada 17 Oktober 2014, digelar diskusi “Satu Dasawarsa Kebijakan Pertahanan dan Komitmen Revitalisasi Alutsista” di bilangan Cikini. Salah seorang analisis, yaitu Begi R Sutanto dari Universitas Pertahanan, menyatakan bahwa perkembangan industri alutsista Indonesia berjalan cukup signifikan.

Perkembangan industri alutsista Indonesia berjalan cukup signifikan.

Perkembangan perusahaan alutsista, seperti Pindad dan Len Industri, selama sepuluh tahun terakhir pun dinilai cukup menjanjikan. “Sudah cukup banyak berjalan. Dan harapan besar untuk melanjutkan mimpi-mimpi, seperti yang dilakukan oleh negara-negara besar seperti Amerika. Ini mimpi yang harusnya bisa dilakukan dan dijalankan oleh pemerintahan selanjutnya,” ujar Begi yang dikutip Blog Militer Indonesia dari Inilah.com. Hasil produksi dari perusahaan-perusahaan pemroduksi alutsista ini sudah banyak dilirik negara-negara Eropa, seperti Turki.

Analis lainnya, Pambudidoyo, menambahkan selama masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum ada perkembangan besar di sisi alutsista. Selain, tahap kemajuan dasar saja. Analis yang akrab dipanggil Ipang memberi poin 7 bagi SBY dalam menata alutsista Indonesia selama pemerintahannya.

"Jika berbicara nilai, pembangunan alutsista SBY berada dinilai angka 7. Karena selama ini kita sendiri tidak punya catatan dasar terkait kemajuan alutsista tanah air," ujar Pambudidoyo. Walaupun begitu, konsep yang dibuat pemerintahan SBY sudah baik, hanya pelaksanaannya yang tidak berjalan baik. "Kalau berbicara konsep, SBY sudah bagus tapi pelaksanaanya yang tidak ada," pungkasnya.

Inilah Panser Tarantula di Satuan Kavaleri TNI AD

Blog Militer Indonesia - Panser Tarantula merupakan salah satu alat utama sistem persenjataan / alutsista terbaru TNI AD yang memperkuat satuan kavaleri sejak 2013. Ini diproduksi di Doozan, Korsel.


Panser TNI AD ini memiliki senjata utama, yaitu canon cockriel MK III kaliber 90 mm yang mampu menembak sasaran maksimal 6 km jauhnya dengan jarak tembak efektif sejauh 1,5 km, dan senjata PSU dan coaxial kaliber 7,62 mm. Di mana cockrielnya bisa dioperasikan tidak hanya siang hari, tapi juga siang.

Di samping itu, alutsista TNI ini dilengkapi night vision berbasis thermal dan perioskop optik paling muktahir. Panser Tarantula bisa dikendarai dua awak yang terdiri dari jurutembak (gunner) dan komandan kendaraan.

Saat ini, TNI AD memiliki 22 unit Panser Tarantula yang diposisikan di berbagai kavaleri - seperti Batalyon Kavaleri 7, Batalyon Kavaleri 9 Jakarta, Serta Kikavser 3 dan Kompi Kavaleri Pengintai 2 Jawa Timur.

Alutsista TNI Siap Pakai Teknologi Anti-Radar

Blog Militer Indonesia - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan teknologi anti-radar, yang bisa memperkuat alutsista TNI yang berhasil menang di ajang Lomba Inovasi TNI 2014. Avanti Fontana, wakil ketua Dewan Juri Lomba Inovasi 2014, menjelaskan bahwa teknologi anti-radar ini dibuat dari chitosan (cangkang udang) dan hidroksiapatit (tulang ikan), dan sudah dikembangkan sejak 2011.

Avanti yang juga menjabat Ketua Umum Yayasan Planet Inovasi itu menjelaskan cara kerja anti-radar, yaitu dengan menyerap pantungan gelombang frekuensi radar musuh yang diarahkan pada alutsista TNI. Ketika diarahkan, maka anti-radar ini akan menyerap gelombang frekuensi itu, sehingga musuh tak mampu mendeteksi keberadaan alat utama sistem persenjataan TNI. Pada akhirnya, TNI dengan bebas mengoperasikannya.

Baca juga: TNI Incar Radar Intai SLR-66 OTH Buatan Cina.

Teknologi anti-radar yang dikembangkan IPB (Institut Teknologi Bogor) siap diterapkan ke alutsista TNI, setelah memenangkan Lomba Inovasi 2014.

"Inovasi ini sangat membantu meningkatkan peran - tugas TNI," kata Avanti seperti Blogmiliterindonesia kutip dari Kompas (12/10/14).

Teknologi anti-radar ini dikembangkan tim dosen dan mahasiswa IPB - terdiri dari Bambang Riyanto, AKhiruddin Maddu, serta Esa Ghanim Fadhalah. Menang dalam kompetisi Lomba Inovasi 2014 ini membuat Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengapresiasi karya mereka. Bahkan, dia meminta teknologi ini cepat diteliti dan dikembangkan, sehingga bisa diterapkan di alutsista TNI terbaru.

Secara terpisah, Mayjen TNI Fuad Basya selaku Kepala Pusat Penerangan TNI menyatakan bahwa untuk penerapannya, pihak TNI akan menggandeng PT Pindad. Pihak TNI juga berencana untuk memproduksi massal teknologi anti-radar ini. Namun sebelum sampai di situ, teknologi anti-radar ini musti diuji-coba dulu di Badan Litbang TNI.

Dua Alutsista Terbaru, KCR-60 M dan CN-235, Diserah-terimakan

Blog Militer Indonesia - Pada 17 September 2014, dua alutsista terbaru diserah-terimakan kepada militer Indonesia, yaitu Kapal cepat rudal KCR-60M ketiga dan CN-235 Patroli Maritim ketiga. Serah-terima ini merupakan upaya Kemenhan untuk memenuhi target pengadaan alutsista dalam periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Pada 17 September 2014, dua alutsista terbaru diserah-terimakan kepada militer Indonesia, yaitu Kapal cepat rudal KCR-60M ketiga dan CN-235 Patroli Maritim ketiga.
KCR-60M credit ARC.

Sebelumnya, PT. Dirgantara Indonesia sudah menyerahkan 2 unit pesawat patroli sejenis. Seperti 2 pesawat sebelumnya, pesawat ketiga dengan nomor seri P-862 ini dilengkapi dengan mission suite besutan Thales yaitu Amascos 200. TNI-AL, Puspenerbal khususnya masih menunggu 2 pesanan lagi pesawat sejenis. Sehingga total nantinya ada 5 Pesawat CN-235 Patmar memperkuat Puspenerbal.

Pada 17 September 2014, dua alutsista terbaru diserah-terimakan kepada militer Indonesia, yaitu Kapal cepat rudal KCR-60M ketiga dan CN-235 Patroli Maritim ketiga.
CN-235 credit ARC.

Sementara, KCR-60M baru yang diresmikan diberi nama KRI Halasan 630. Pada Batch pertama ini, Kementrian Pertahanan memesan total 3 unit KCR-60M dari PT. PAL. Sebelumnya, PT. PAL telah menyerahkan KCR-60 meter pertama, yaitu KRI Sampari-628 pada 28 Mei lalu, dan diikuti KRI Tombak-629 pada 27 Agustus 2014. Total, Kementrian Pertahanan membutuhkan belasan unit KCR-60M serta KCR-40 untuk memperkuat armada laut Indonesia.

Sumber: ARC

[Video] Gagahnya Tank Leopard, Alutsista Terbaru TNI Asal Jerman

Blog Militer Indonesia - Pada 31 Agustus kemarin, sejumlah alutsista TNI - Polri dipamerkan di lapangan Monas, Jakarta Pusat.

Pic shared by detik.

Yang menjadi perhatian tentu saja sosok tank baru milik TNI, yaitu tank Leopard, yang baru dibeli dari Jerman. Mau lihat kegagahan tank yang punya bobot sekirat 60 ton ini? Cek videonya berikut.

Demi Alutsista TNI, Menhan Desak Pemimpin Baru Hemat

Pada 11 Juni 2014, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan harapannya kepada pemimpin Indonesia yang baru supaya tetap mengalokasikan sejumlah dana demi memenuhi kebutuhan alutsista TNI terbaru. "Saya berharap dengan terbentuknya kabinet baru Indonesia bisa ... mengalokasikan dana guna membeli alat sistem utama senjata," katanya di Jakarta.


Mengutip Okezone, telah dilaporkan bahwa sejumlah perlengkapan pasukan maritim dan skuadron Indonesia menerima bantuan. Salah satunya, dari pihak Rusia. Negara yang dijuluki Beruang Merah tersebut sempat melakukan ekspansi Sukhoi ke Indonesia sebagai bentuk bantuan dalam segi pertahanan.

Menurut Purnomo, Rusia sangat terbuka dengan Indonesia untuk membahas masalah pertahanan. Sejauh ini Purnomo pun berharap hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia akan lebih kuat ke depannya.

Usai menjabat sebagai menteri, rencananya Purnomo akan berhenti terlibat sebagai menteri pertahanan apabila kembali ditunjuk oleh Presiden Indonesia yang baru. Dirinya justru mengharapkan adanya regenerasi menteri, khususnya dalam bidang pertahanan.

Sumber: Okezone

Menjelang Pergantian Kabinet, Penyelesaian Pengadaan Alutsista TNI Diprioritaskan

Pada 10 Juni 2014, Menhan Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa menjelang masa akhir jabatannya akan diprioritaskan penyelesaian pengadaan alutsista TNI, administrasi, dll. "Praktis untuk belanja modal pengadaan alutsista bisa diselesaikan. Kedua yang akan diselesaikan adalah soal administrasinya, misal kontrak," ujarnya kepada wartawan di Gedung Kemenhan, Jakarta. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa tak ada persoalan jika alat utama sistem senjata yang sudah dibelanjakan dikirim selepas tahun 2014.

Selain dua persoalan di atas, Purnomo Yusgiantoro mengatakan akan merampungkan produk strategis 3 bulan terakhir masa jabatan sembari mempersiapkan bahan awal untuk kabinet berikutnya (2015-2019). "... Namun, nanti bisa diubah sesuaikan kemauan kabinet baru," tuturnya.

Menjelang Pergantian Kabinet, Penyelesaian Pengadaan Alutsista TNI Diprioritaskan

Mengutip Republika, di samping itu, ia mengatakan  tahun 2013 ini, pihaknya menerima laporan keuangan opini WTP murni dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ia mengingatkan agar bisa mempertahankan tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya. "Walaupun pada 2013 kemarin, waktu diperiksa untuk tahun 2012, kita mendapat WTP dengan catatan," ungkapnya.

Menurutnya, WTP dengan catatan itu dikarenakan pihaknya mengalami kesulitan di Simak BMN. Ia mengatakan perlu tanggung jawab untuk mempertahankan lagi (WTP murni). Dalam pemeriksaan laporan keuangan tersebut dilakukan 80 hari. "Kita berbahagia, akan tetapi di sisi lain masih ada perjuangan dan perjuangan lebih sempurna biasanya lebih sulit," katanya.

Alutsista Indonesia di Uji Taktis Jelang Latgab 2014 di Asembagus

Pada 31 Mei 2014, telah digelar uji taktis pra-latihan gabungan 2014 TNI di Pusat latihan pertempuran Marinir V Baluran, Asembagus, Situbondo, Jatim. Walaupun Latgab 2014 baru akan digelar tanggal 4-5 Juni, pada uji taktis tersebut militer Indonesia telah memakai peluru dan amunisi yang sebenarnya antara satu kesatuan dengan kesatuan lainnya.

Berikut foto-foto penampakan alutsista Indonesia di uji taktis yang telah dilakukan, sebagaimana dilansir oleh Antara dan Republika.

Mobilisasi Udara

Alutsista Indonesia di Uji Taktis Jelang Latgab 2014 di Asembagus

Pergerakan Kompi Mekanis


Panser Anoa


Uji Tembak Meriam

Idealnya Anggaran Perawatan Alutsista Indonesia Sebesar 10% Anggaran TNI

Pada 27 Mei 2014, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa anggaran ideal merawat serta memelihara alutista Indonesia adalah sebesar 10% anggaran total TNI. "Sekarang baru 5-6%," katanya menyatakan selesai uji-coba misil Astros II di Formosa, Brasilia, Brasil.

Idealnya Anggaran Perawatan Alutsista Indonesia Sebesar 10% Anggaran TNI

Di samping soal anggaran, Sjafrie juga mengatakan jika TNI juga memerlukan peningkatan anggaran untuk BBM dan pelumas alustista. Pihak TNI sampai kerap berutang BBM sebesar Rp 3 triliun untuk menutupi kebutuhan yang mencapai Rp 6 triliun lebih per tahun. Saat ini yang baru bisa dipenuhi adalah sebesar Rp 2 triliun lebih per tahun.

Mengutip Metro (27/5), kebutuhan BBM untuk alutsista Indonesia memang cukup tinggi. Contohnya, kapasitas solar untuk kendaraan peluncur misil Astros yang baru dibeli TNI dari Brasil mencapai 280 liter per kendaraan. Bila di tangki tersisa 25 liter sampai 50 liter harus diisi penuh kembali.[kr]

Penandatanganan MoU Pembangunan Pabrik Propelan Mendukung Industri Pertahanan Indonesia

Pada 26 Mei 2014, telah ditandatangani nota kesepahaman (Mou) antara PT. Dahana dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Perancis untuk membangun pabrik propelan di Subang, Jabar, untuk mendukung industri pertahanan Indonesia. Perwakilan dari Kemenhan turut hadir untuk menyaksikan penandatanganan tersebut, yang mengharapkan groundbreaking sebelum bulan Oktober mendatang.

"Diharapkan groundbreaking sebelum HUT TNI, ini sebagai kado, sebelum tanggal 5 Oktober," tukas Silmy Karim, staf Ahli KKIP Bid. Kerjasama & Hub. Antarlembaga Kemenhan, sebagaimana dikutip oleh Okezone.com (26/5).

Penandatanganan MoU Pembangunan Pabrik Propelan Mendukung Industri Pertahanan Indonesia

Dalam penjelasannya, Silmy mengatakan bahwa kedua negara melalui tiga perusahaan tersebut juga akan memberikan nilai-nilai strategis. Khususnya, sistem pertahanan berbasis teknologi yang dimiliki masing-masing negara. "Ke depan, nilai strategis dari Perancis, banyak peluru kendali dari Perancis, ada transfer teknologinya," imbuh Silmy.

Tak cuma itu, dengan ditandatanganinya MoU pembangunan pabrik propelan ini berarti secara tidak langsung memberikan pembuktikan Indonesia mulai memasuki zaman kemandirian, khususnya di bidang industri militer Indonesia. Karena selama ini, bahan baku amunisi (propelan) 100 persen mengimpor dari Belgia.

"Ini akan menjadi lokal konten, sebab propelan-nya diproduksi sendiri. ... Indonesia telah memasuki era kemandirian. Sudah selesai bagi kita untuk membeli barang. Kita bangun alat pertahanan bangun sendiri. Kita tengah menuju ke sana sekarang, makanya kita mulai,"
pungkas Silmy.[]

Putra Mahkota Brunei Jajal Rantis dan Senapan Ss 2 Tipe V 5 Buatan PT. Pindad

Pada 6 Mei, setelah mendapatkan penghargaan sebagai warga kehormatan Korpaskhas, Pangeran Al Muhtadee Billah, Putra Mahkota Brunei Darussalam, mendapat kesempatan melakukan uji coba kendaraan Taktis (rantis) 4x4 Komodo tipe intai produksi PT. Pindad. Selain itu, Pangeran Al-Muhtadee Billah juga berkesempatan menjajal senapan SS 2 tipe V 5 Silencer - yang lagi-lagi juga hasil produksi PT.Pindad. Pangeran terkesan setelah menjajal dan menguji sendiri rantis serta senapan.


Peninjauannya ke PT. Pindad ini merupakan tindak lanjut dari ketertarikan Brunei Darussalam akan produk Alutsista besutan PT.Pindad, setelah partisipasi PT. Pindad dalam Brunei Internasional Defence EXPO (BRIDEX) Febuari silam. Kunjung ini juga merupakan langkah awal menjalin persahabatan dan kerjasama dua negara antara Indonesia - Brunei Darussalam.

Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses

Pada 6 Maret 2014, telah berhasil dilakukan uji coba penembakan Rhan - roket Indonesia 122 mm buatan LAPAN melalui kendaraan militer buatan anak-anak Indonesia. Uji coba ini dilangsungkan di Garut, Jawa Barat.

Balitbang Kemhan sukses melakukan uji coba kendaraan buatan PT Pindad dan konsorsium lainnya, termasuk PT AIU dalam mendesain kendaraan militer ini demi mengusung Multi Launcher Rocket System (MLRS), Rhan berdiameter 122 mm. Bisa juga disebut roket LAPAN.

Kendaraan militer ini belum begitu menggaung namanya. Kecuali diberitakan jika mesinnya memakai Mercedes dan kemungkinan kedepan menggunakan mesin Jepang (tergantung pilihan pengguna). Apapun mesin maupun namanya, kita nantikan peresmiannya oleh Kemhan kedepan.

Ini adalah kemajuan anak bangsa dalam proses mencapai kemandirian demi tercapainya kebutuhan alutsista Indonesia.

Berikut Foto-foto penampakan Kendaraan berserta Ujicobanya diposkan Supermarine dari website PT AIU.

Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses
Uji Coba Kendaraan dan Roket LAPAN di Garut Sukses

Pengadaan Alutsista TNI Gagal, Komisi I DPR RI Sesalkan Kegagalan Pemerintah

Pada 25 Februari 2014, Komisi I DPR RI sesalkan kegagalan pemerintah dalam melakukan amanah rencana strategis dari Kemenhan untuk pengadaan alutsista yang memang dibutuhkan militer Indonesia. Tubagus Hasanuddin selaku Wakil Ketua Komisi I DPR menyatakan bahwa rencana strategis Kemenhan sudah dikepreskan dan penambahan dana sebesar Rp 50 triliun untuk periode 2009-2014. Tapi hingga kini belum bisa terbeli anggaran itu belum turun seluruhnya. "Pemerintah hanya mampu mengadakan alutsista TNI sebesar Rp 23 triliun," ungkap Hasanuddin.

Pengadaan Alutsista TNI Gagal, Komisi I DPR RI Sesalkan Kegagalan Pemerintah

Sisanya sebesar Rp 27 triliun belum bisa dibayarkan lantaran alasan situasi keuangan negara sedang tidak menguntungkan. "Negara tak punya duit. Risikonya target minimum essential force tak tercapai," ungkapnya.

Dalam kacamata Hasanuddin, sebenarnya hal seperti ini memerlukan political will dari presiden, supaya masalah tersebut tidak diwariskan kepada pemerintah selanjutnya. Yang paling disesalkan, lanjutnya, adalah dari Rp 23 triliun yang sudah diprogramkan, pemerintah belum membayar Rp 1,1 triliun untuk cicilan yang jatuh tempo April 2014. Padahal kontrak sudah diteken dan proses pengadaan bertahap sudah dijalankan.

Dengan pembayaran sebagian besar sudah masuk, ada potensi kerugian besar bila kontrak tak dipenuhi. Komisi I DPR sendiri sudah mendesak agar dicarikan dana itu, namun Kemenkeu sudah menyatakan sikap "lempar handuk". "Saya melihat ada mismanajemen, bagaimana kebijakan kepala negara tak bisa diteruskan oleh menteri," pungkasnya.

Sumber:
BeritaSatu

Kekuatan Alutsista TNI 2014 Tidak Bisa Dianggap Remeh!

Pada 23 Februari 2014, diberitakan bahwa kekuatan alutsista terbaru TNI terus bertambah dan mulai harus diperhitungkan oleh negara-negara lain, terutama Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro belum lama ini. "Renstra pertama (2010-2014), kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara lantaran pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU, dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru," tukas Purnomo.

Contohnya, kekuatan TNI Angkatan Udara akan terus meningkat. Bahkan, ada 102 alat utama sistem senjata baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014, seperti pesawat tempur F-16, T-50i, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar.

Kekuatan Alutsista TNI 2014 Tidak Bisa Dianggap Remeh!

"Pada 2014 ini, sejumlah pesawat tempur yang telah dipesan akan berdatangan dan semakin memperkuat TNI AU," tukas Menhan, ketika acara serah-terima pesawat tempur T-50i di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Dalam pandangannya, ke-16 unit pesawat tempur ringan bermesin jet T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan itu juga menambah kekuatan alutsista TNI AU.

Pesawat tempur T-50i yang dibeli Pemerintah Indonesia dengan nilai kontrak sebesar 400 juta Dollar Amerika ini akan digunakan sebagai pesawat pengganti Hawk MK-53 yang menjadi bagian dari Skuadron Udara 15, Lanud Iswahyudi Madiun, di bawah Komando Operasi AU-II. "Pesawat ini akan meningkatkan peran TNI dalam mengemban tugas yang lebih besar dalam menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa mendatang," kata Purnomo.

Pesawat T-50i adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea Selatan dan dikembangkan oleh Korean Aerospace Industry dengan bantuan Lockheed Martin. Pesawat ini mampu ditempatkan digaris depan sebagai Light Fighter yang dilengkapi dengan peralatan tempur. (Missile Guided/Unguided, Rocked, Bomb, Canon 20 mm serta radar. "Dengan kehadiran pesawat T-50i tersebut, maka status pembangunan kekuatan matra udara pada renstra 2010-2014 dalam rangka modernisasi alat utama sistem senjata baru, yaitu skadron pesawat tempur strategis Sukhoi telah lengkap sebanyak 16 unit," ujarnya.

Selain itu, lanjut Menhan, tahun ini akan datang pesawat tempur F-16 setara Blok 52 buatan Amerika Serikat sebanyak 24 unit. Sampai awal semester II tahun 2014 akan hadir 16 pesawat tempur Super Tucano untuk melengkapi 1 skadron dalam rangka mendukung operasi pengamanan dalam negeri. Di samping itu, juga akan segera tiba UAV (pesawat terbang tanpa awak) untuk mengisi skadron UAV dalam rangka memperkuat operasi pemantauan perbatasan yang dipusatkan di Lanud Supadio Pontianak.

Menhan juga mengungkapkan, untuk pesawat angkut sedang, secara berurutan telah tiba di Indonesia sebagian besar dari 9 unit pesawat CN-295 yang merupakan hasil kerjasama produksi antara PT DI dengan Airbus Military dan rencananya akan menjadi 1 skadron CN-295, dan 2 unit CN-235 serta 1 unit Casa-212 untuk angkut ringan. Dalam rangka mendukung kegiatan airlif dan OMSP, telah dilakukan penambahan kekuatan sebanyak 9 unit pesawat angkut berat Hercules C-130H yang sudah mulai tiba secara bertahap.

TNI AU juga telah menerima dan mengoperasikan pesawat latih lanjut KT-1B Wong Be buatan Korea Selatan yang digunakan oleh Tim Aerobatik TNI AU, Jupiter sebanyak 1 skadron. Selain itu, peremajaan pesawat-pesawat latih TNI AU telah dilakukan dengan mengganti pesawat latih T-34 C dan AS-202 Bravo yang sudah berusia sekitar 30 tahun dengan pesawat latih generasi baru yaitu Grob G-120 TP buatan Jerman sebanyak 18 unit yang direncananya akan menjadi 24 unit. Menhan menambahkan, untuk rotary wing, telah ditambah beberapa jenis Helikopter yaitu Helly Super Puma NAS-332 sebanyak 3 unit dan Helly Full Combat SAR EC-725 Caugar dari Euro Copter sebanyak 6 unit.

Sedangkan untuk pertahanan udara nasional, telah diperkuat dengan pengadaan PSU (Penangkis Serangan Udara) sebanyak 3 batere/6 firing unit buatan Rainmetall Air Defence Switserland untuk satuan-satuan di Korps Paskhas TNI AU 7 unit radar canggih yang telah dan akan dipasang di beberapa lokasi antara lain Merauke, Saumlaki, Timika dan Morotai. Khusus TNI Angkatan Darat, selain membeli 114 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder akan tiba sebelum bulan september 2014.

Demikian pula dengan Meriam Caesar, dimana dari 37 unit, 4 unit diantaranya akan tiba sebelum Oktober 2014. Sementara untuk roket MLRS Astros II akan tiba 13 unit sebelum Oktober 2014. Masih dari TNI-AD, rudal pertahanan udara jenis Starstreak serta Mistral dijadwalkan juga tiba sebelum Oktober 2014, khususnya Mistral akan datang sebanyak 9 unit pada Juni 2014.

Sementara itu untuk matra laut, terdapat Upgrade Kapal perang korvet kelas Fatahillah, Kapal latih pengganti KRI Dewaruci, pengadaan 2 unit Kapal Hidro Oceanografi, dan lain lain. Untuk tank amfibi BMP-3F sebanyak 37 unit, beberapa diantaranya sedang dalam proses uji terima. Sementara panser amfibi BTR-4 sebanyak 5 unit, dimana 2 unit diantaranya akan tiba di tanah air pada September 2014.

Target MEF 42 PERSEN

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menargetkan tahun 2014 ini kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) pada rencana strategis I dapat mencapai 40-42 persen. "MEF pada 2013 telah lampaui target 28,7 persen. Pada 2014 diharapkan mencapai 40-42 persen," kata Panglima TNI, selepas membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2014 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Masyarakat Indonesia bisa melihat sendiri bagaimana kekuatan alutsista TNI 2014 ini, diantaranya adalah sejumlah Alutsista yang akan datang pada tahun ini untuk memperkuat matra darat, laut dan udara. Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal dapat dilakukan pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan pada 2024. Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019).

Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan sebuah terobosan dan keberhasilan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan. Anggaran pertahanan pada 2013 mencapai Rp 77 Triliun, namun pada 2014 ini meningkat menjadi Rp 83,4 Triliun.

Transformasi TNI AD

TNI Angkatan Darat (AD) akan lebih memfokuskan diri untuk melakukan transformasi organisasi pada 2014 ini guna menghadapi rencana strategis II periode 2015-2019. "Transformasi ini akan disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis yang mungkin dihadapi Indonesia pada lima hingga sepuluh tahun ke depan. Hal ini dilakukan agar TNI AD semakin profesional dan mampu menjawab tuntutan dan perkembangan jaman," kata Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman usai membuka Rapat Pimpinan (Rapim) 2014 TNI AD, di Markas Besar TNI AD, Jakarta.

Pertambahan alutsista membuat TNI AD harus segera mendesain ulang organisasi. Jika dulu TNI AD hanya memiliki meriam 105 mm yang jarak ledaknya hanya 12 kilometer, saat ini sudah memiliki meriam 155 mm dengan daya jangkau 42 kilometer. TNI AD juga sudah memiliki Multilauncher Rocket System (MLRS) dengan daya jangkau hingga 100 kilometer. "Kita juga punya tank (Leopard) yang kapabilitasnya luar biasa," ujarnya.

Ada pula penangkis serangan udara yang kemungkinan perkenaannya mencapai 96 persen. Semua itu bisa didapat walaupun anggaran belanja pertahanan Indonesia masih kurang dari satu persen GDP. "Bahkan, kita sudah bisa membuat beberapa alutsista sendiri," ucapnya.

Sumber:
Antara

EC-725 Cougar, Alutsita Indonesia Terbaru untuk Squadron Helikopter Baru TNI AU

Pada 23 Februari 2014, diberitakan bahwa TNI Angkatan Udara menambah satuannya (skuadron), yakni Skuadron 9. Ini merupakan upaya TNI AU untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam menjaga pertahanan Tanah Air, baik melalui pelatihan rutin maupun pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) terbaru.

Nantinya, menurut rencana, Skuadron 9 (skad) akan ditempatkan di Subang/Kalijati, Jawa Barat untuk tugas SARPUR (Safe and Resque Tempur). Alutsista terbaru Indonesia yang dipilih untuk mengisi skuadron ini adalah 16 helikopter canggih EC-725 Cougar asal Eurocopter.

"Skad 9 adalah skad baru yang berkedudukan di Lanud SDM Subang/kalijati dengan kekuatan 16 pesawat cougar full combat," kata Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, Kadispen TNI AU, sebagaimana dikutip Liputan6.com.

Pihak TNI AU sudah menandatangani pembelian 6 unit dengan Eurocopter lewat PT. Dirgantara Indonesia sejak Maret 2012. Helikopter ini dijadwalkan akan menjadi alutsista Indonesia tahun 2014. Sedangkan, 10 unit sisanya baru akan dipesan tahun 2015 ini.

"Rencana menjadi kekuatan squadron udara 9 lanud SDM, akan tiba secara bertahap pada tahun 2015 dengan kekuatan satu squadron," kata Hadi Tjahjanto lebih lanjut.

EC-725 Cougar, Alutsita Indonesia Terbaru untuk Squadron Helikopter Baru TNI AU

EC-725 Cougar atau super Cougar merupakan helikopter transportasi jarak jauh yang bisa memuat 29 penumpang beserta 2 crew. Heli multi-role ini dilengkapi teknologi canggih seperti LCD multi fungsi 6"x8" pada cockpit, terintegrasi dengan peta digital/peperangan elektronik, full glass cockpit, dan lain-lain.

EC-725 Cougar menggunakan mesin ganda yaitu 2x Tubomeca Makila 1A4 tuboshafts dengan kecepatan maksimum 324 km/jam (175 kts) dan dapat mengudara selama 6 jam lebih. Selain Indonesia, negara-negara yang telah menggunakan EC-725 Cougar adalah Perancis, Brazil, dan Malaysia.

Helikopter canggih ini bisa juga dipersenjatai dengan gun pod dan roket pod. Untuk melindungi diri, terdapat pelapis baja untuk pilot dan co-pilot dan juga senjata berkaliber 7.62 mm atau 12.7 mm.

Pemilihan EC-725 Cougar karena selama ini TNI AU telah terbiasa menggunakan produk dari Eurocopter. Selain itu, spesifikasinya sudah sangat memenuhi syarat TNi AU.

"Karena kita sudah terbiasa dengan produk Perancis. Dan ini merupakan kerjasama PT DI dengan Eurocopter. Spek untuk combat SAR sudah terpenuhi," pungkas Hadi.

Lanud Adisucipto Menerima Empat Pesawat Latih

Pada 20 Februari 2014 dikabarkan jika tim akrobatik udara TNI AU Jupiter Aerobatic Team (JAT), tiba kembali di home base Landasan Udara (Lanud) Adisutjipto. Delapan pesawat KT-01 Wong Bee ini selanjutnya akan menempati shelter Wingdik di Skadik 102.

Kedatangan JAT ke Lanud ini merupakan pertama kali sejak mengikuti ajang Singapore Airshow 2014, yang berlangsung di Bandara Changi 11 hingga 16 Februari. Dan mengisi acara Gebyar Dirgantara tanggal 18 Februari 2014 di Palembang.

Lanud Adisucipto Menerima Empat Pesawat Latih

Pesawat ini sempat tertahan beberapa hari di pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma. Hal ini dikarenakan guyuran abu yang mendera DI Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Kedatangan pesawat yang didominasi warna merah putih yang dipimpin oleh Kol Pnb Wahyu Anggono, SE. Serta Flight Leader adalah Mayor Pnb Ferry Yunaldi ini, disambut oleh Komandan Wingdik Terbang Kol Pnb Ir Bob H Panggabean.

Selain kedatangan tim akrobatik kebanggaan Indonesia, Lanud Adisutjipto juga menerima empat unit pesawat latih jenis Grob G120TP-A. Pesawat buatan Jerman ini merupakan upaya untuk modernisasi Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI AU. Direncanakan, Angkatan Udara akan memunyai 18 pesawat berjenis Grob.

18 pesawat ini diserahkan secara bertahap oleh Kementerian Pertahanan RI. Pada 2013 silam, telah diserahkan 10 armada Grob. Penyerahan ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat latih yang lama.

Sementara ini di Skadik 102 Lanud Adisutjipto, telah memiliki 14 pesawat Grob. Empat sisanya akan diterbangkan dari Lanud Halim tanggal 21 Februari 2014.

Sumber:
Tribunnews

KRI Banjarmasin 592 Angkut Tujuh Alutsista Buatan Banyuwangi

Pada 7 Februari 2014, KRI Banjarmasin 592 berlabuh di Dermaga Tanjung Wangi, Kec. Kalipuro, Kab. Banyuwangi. Kapal kebanggaan produksi dalam negeri itu berlabuh di Banyuwangi untuk mengangkut 4 unit kapal jenis Combat Boat Catamaran dan 3 unit speed boat yang dipesan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut lewat PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi.

Tujuh alat utama sistem senjata (alutsista) itu akan didistribusikan ke sejumlah perairan di wilayah barat Indonesia.

Perwira Pelaksana (Palaksa) KRI Banjarmasin 592 Mayor (P) Mohammad Nizarudin di geladak E (bridge deck) menguraikan, ketujuh alutsista terbaru TNI ini akan dikirim ke Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai Asahan di Sumatera Utara, Lanal Ranai di Kepulauan Riau, kepulauan Natuna dan Lanal Tarempa di Batam dan sejumlah perairan di Kepulauan Natuna.

KRI Banjarmasin 592 Angkut Tujuh Alutsista Buatan Banyuwangi

"Untuk didistribusikan ke pulau-pulau luar bagian barat, memperkuat keamanan wilayah laut," jelas Nizarudin.

Setelah menyelesaikan tugas mendistribusikan alutsista, sambung Mayor Nizar, KRI Banjarmasin 592 dengan ABK 145 orang itu juga mempunyai misi lain. Yaitu untuk mengikuti Komodo Multilateral Exercise di perairan Kepulauan Riau yang digelar Maret hingga April 2014 mendatang.

"Selepas pendistribusian alutsista selesai, kami mengikuti pelatihan komodo juga," tutupnya.

Sementara itu, Pendiri PT Lundin Industry Invest Lizza Lundin saat dikonfirmasi detikcom menolak memberikan keterangan lebih lanjut perihal pemesanan alutsista TNI AL tersebut. Kepada detikcom, Lizza hanya meninggalkan pesan singkat yang menunjukkan bahwa dirinya sedang berada di luar kota untuk kepentingan bisnisnya.

"Maaf, saya lagi di Jakarta ada rapat, lewat sms saja," pesannya.

Saat detikcom bertandang ke lokasi perusahaannya yang berlokasi di Jalan Lundin 1, Kelurahan Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, detikcom juga belum berhasil mendapatkan keterangan.

Namun, informasi yang berhasil di himpun di lapangan, saat ini PT Lundin memiliki 16 produk kapal dengan kategori kapal militer, komersial, rekreasi dan kepentingan SAR. Perusahaan yang telah memiliki cabang di Singapura ini memberi nama North Sea Boats pada semua produk buatannya.

Hasil produksi kapal yang didirikan pada 2011 lalu itu ternyata banyak diminati di luar negeri. Semisal kapal rekreasi yang dikirim ke Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Australia, Dubai, hingga Eropa.

Selain bermitra dengan TNI AL, PT Lundin yang telah mengantongi ISO 9001-2008 itu juga telah menjalin kerjasama dengan Badan Koordinasi Keamanan Laut, Badan SAR Nasional, serta berbagai organisasi konservasi. Selain pasar dalam negeri, kapal militer buatan PT Lundin juga dipercaya memperkuat alutsista Australia, Belanda, Hongkong, Kamboja, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Swedia, dan Arab Saudi.

Sumber:
Detik

Ada Kemungkinan Timor Leste Membeli Alutsista Indonesia

Pada 10 Februari 2014, Xanana Gusmao selaku Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Timor Leste tidak pungkiri bila negaranya akan membeli alutsista Indonesia. "Ya, mungkin senjata, mungkin amunisi. Kenapa tidak? Kita, kan, tetangga. Kalau boleh dibilang, kita bahkan bersahabat," jelas Xanana di Kemenhan.


Mengutip Solopos, Xanana berharap untuk bisa membangun kekuatan militer untuk mempertahankan wilayah Timor Leste. Karena itu, pembelian alutsista didasari oleh harapan Xanana tersebut. “Kita membeli apa yang kita butuhkan untuk membangun kemampuan angkatan darat kami,” imbuh Xanana.

Xanana Gusmao menyambangi Kemenhan Indonesia sebagai bentuk tindak lanjut dari memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani kedua pihak tahun 2012 silam di Dili. Dalam pertemuan bilateral ini, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro dan Xanana Gusmao membahas mengenai kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan, kerjasama militer angkatan darat, laut, dan udara, serta kerja sama industri militer.