Selama Pameran TEI 2013, Produk Militer Indonesia Banyak Peminatnya

Selama Pameran TEI 2013, Produk Militer Indonesia Banyak Peminatnya
Pos M. Hutabarat
Pada 16 sampai 20 Oktober lalu di JIE (Jakarta International Expo), Kemayoran, Jakarta digelar TEI (Trade Expo Indonesia) 2013 yang bertujuan untuk menggenjot promosi ekspor. Termasuk juga produk-produk militer Indonesia di dalamnya.

Sebagaimana dilansir Jaringnews (24/10/13) disampaikan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos M. Hutabarat di sela-sela konferensi pers mengenai hasil TEI 2013 di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. “Ini amanat UU No 16 tahun 2012, yaitu kita harus mempromosikan industri pertahanan bukan hanya untuk dipakai sendiri tetapi juga diekspor,” kata Hutabarat.

Hutabarat  tidak mempunyai data negara mana dan komoditas pertahanan apa saja yang ditransaksikan selama pameran. “Kita banyak menyuplai komponen pesawat terbang ke negara-negara Eropa. Komponen itu diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. Selain itu kita memproduksi peluru. Sedangkan PT Pindad membuat panser, selain untuk dipakai juga untuk diekspor,” kata Hutabarat merinci beberapa produk militer yang telah banyak menjajal pasar luar negeri.

Selain itu, Hutabarat menambahkan, simulator untuk keperluan pelatihan para pilot banyak juga dibuat oleh BUMN strategis untuk kemudian diekspor. “Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) itu tidak bisa dibuat oleh perusahaan swasta, harus dibuat oleh BUMN. Sebab kalau dibuat oleh swasta, berbahaya,” kata dia.

Pasar produk-produk militer di dunia memang terus berkembang. Pasar di wilayah ASEAN saja diperkirakan mencapai US$ 25 miliar saat ini. Sebagai bagian dari upaya memandirikan industri pertahanan, menembus pasar ekspor menjadi salah satu prioritas pemerintah.

“Target kita saat ini adalah setidak-tidaknya 35 persen dari keseluruhan produk dibuat di Indonesia. Dan setiap tahun kita harapkan kandungan lokalnya bertambah 5 persen. Sehingga dalam lima tahun sudah mencapai 70 persen,” pungkasnya.

Sumber: Jaringnews.com

Sikumbang, Pesawat Indonesia untuk Misi Pengintaian Sekaligus Penyerangan

Sikumbang, Pesawat Indonesia untuk Misi Pengintaian Sekaligus Penyerangan
Pada 1 Agustus 1954, sebuah pesawat tempur Indonesia yang cukup ringan mengudara langit di Indonesia. Nama pesawat itu adalah NU-200 Sikumbang, yang saat ini sudah berubah fungsi menjadi monumen di kawasan pabrik PT DI (Dirgantara Indonesia). Berikut ini merupakan penjelasan lebih detail mengenai filosofi dan hasil uji terbang Sikumbang, yang pernah ditulis Mayor Udara Nurtanio selaku perancang dan pembuat pesawat Indonesia ini di Majalah Angkasa edisi TH.VI Oktober 1955.


*

Ada salah kaprah dalam penggolongan jenis pesawat Sikumbang. Dalam literatur masa kini, disebutkan Sikumbang adalah jenis pesawat anti-gerilya (Counter Insurgency). Namun pada kenyataannya, Nurtanio merancang Sikumbang sebagai pesawat pengintai ringan bersenjata. Dalam benak Nurtanio, pesawat-pesawat yang dioperasikan AURI (sebutan TNI AU zaman dulu, red.) medio 1950-an belum ada yang tepat untuk melakukan misi pengintaian bersenjata. AURI memang sudah mengoperasikan pesawat intai Auster atau L-4J. Namun pesawat itu dinilai terlalu lamban, serta tidak dilengkapi senjata. Alhasil sasaran-sasaran yang telah ditemukan akan dibiarkan terlebih dahulu. Namun, dengan pesawat semacam Sikumbang, maka sasaran bisa langsung ditindak. Sementara, jika pengintaian menggunakan pesawat Mustang atau Jet, maka hasilnya tidak optimal lantaran dinilai terlalu cepat. Lebih daripada itu, Nurtanio juga membayangkan, Sikumbang ini nanti bisa menembak jatuh pesawat intai yang terbang sangat pelan, dimana pesawat sejenis itu justru sukar ditembak pesawat pemburu berkecepatan tinggi.

Sikumbang, Pesawat Indonesia untuk Misi Pengintaian Sekaligus Penyerangan
Selanjutnya, dalam hal perancangan, Nurtanio juga memikirkan banyak hal terkait proses produksi nantinya serta operasional. Nurtanio sangat menggaris bawahi, bahwa pesawat ini harus dapat dibuat sendiri oleh AURI, meski mesin tetap beli dari luar negeri. Lalu ongkos operasional yang lebih murah dari pesawat Harvard atau Mustang. Desain pesawat Sikumbang akan dibuat dengan sederhana, sehingga penerbang-penerbang AURI dapat mudah mengemudikan, tanpa perlu latihan transisi yang panjang dari pesawat lain. Kesederhanaan pesawat juga diperlukan agar pesawat bisa operasional di garis depan tanpa dukungan memadai. Untuk misi pengintaian, kanopi akan dibuat lebar dan leluasa, sehingga pilot mempunyai bidang pandang yang baik untuk misi pengintaian dan penyerangan. Selain itu, Sikumbang juga bisa digunakan untuk Gerilya Udara maupun Lawan Gerilya. Filosofi demikian ini tentu mengingatkan kita pada pesawat OV-1 Mohawk atau OV-10 Bronco yang muncul beberapa dekade setelahnya. Sungguh luar biasa pemikiran para pendahulu kita itu.

Untuk memenuhi hal tersebut maka Sikumbang harus memenuhi beberapa syarat. Di antaranya, konstruksi pesawat musti amat sederhana namun kuat, sehingga bisa mendarat di lapangan kecil dan kasar seukuran 30x350 meter, serta gampang diperbaiki meski di garis depan. Untuk misi pengintaian, pesawat diharapkan dapat terbang cukup pelan dan stabil dengan kecepatan sekitar 80 mil/jam. Namun demikian, untuk pertahanan diri, serta memburu pesawat intai (capung) musuh, Sikumbang mampu melaju hingga 160 mil/jam. Sikumbang juga dipersyaratkan mudah dikemudikan dan manuverability-nya bagus. Untuk eksekusi sasaran darat dan udara, nantinya Sikumbang akan dilengkapi dengan 2 buah senapan mesin kaliber 7,7mm dan tambahan 4 buah roket atau 2 buah bom napalm. Komunikasi dengan pasukan di darat pun sudah dipikirkan dengan menempatkan radio secukupnya.

Sikumbang, Pesawat Indonesia untuk Misi Pengintaian Sekaligus Penyerangan
Namun demikian, pada saat proses pembuatannya ternyata tidak lah mudah. Hambatan utama datang dari material dan bahan pembuatan pesawat. Untuk membuat prototipe pertama ini, Nurtanio dan kawan-kawan menggunakan bahan-bahan yang sudah tak terpakai oleh AURI, alias rongsokan. Hal ini bisa diduga lantaran situasi negara yang belum benar-benar stabil, sehingga dukungan keuangan untuk mencari bahan ke luar pun sangat terbatas.

Kesulitan utama yang dihadapi tim perancang adalah dari mesin. Menurut literaturnya mesin De Havilland Gipsy Six mampu menyemburkan tenaga sebanyak 200HP. Namun kenyataannya, mungkin lantaran sudah tua dan bekas, saat dipasangkan mesin hanya mampu menggenjot hingga 175HP saja. Ditambah bobot mesin yang cukup berat, yaitu sekitar 450 lbs, maka kemampuan Sikumbang pun melorot jauh dari persyaratan yang diminta. Namun Nurtanio sendiri sudah mencatat kelemahan itu. Ia berharap, pada seri produksi akan digunakan mesin Continental 470-A yang memiliki daya 225HP namun beratnya hanya 350lbs.

*

Demikian penjelasan detail mengenai pesawat tempur Indonesia bernama NU-200 Sikumbang.

Tahun 2014 Indonesia Tambah Alutsista TNI Terbaru 24 Pesawat Tempur

Analisapublik.com
Pada 21 Oktober 2013, Purnomo Yusgiantoro selaku Menteri Pertahanan Republik Indonesia menyatakan jika akan ada penambahan alutsista terbaru Indonesia di skuadron Sumatera sebanyak 24 pesawat tempur jenis F-16. Tujuannya meningkatkan kekuatan militer Indonesia di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia. Hal ini disampaikan Menhan selepas meresmikan Gedong Pusaka Padepokan Sangga Langit di rumah Begug Purnomosidi, Jl. A. Yani 41 Wonokarto, Wonogiri.

Ke-24 pesawat tempur jenis F-16 tersebut jelas melengkapi alutsista TNI terbaru, khususnya TNI AU, di samping penambahan pesawat tempur Sukhoi, Hawk, dan pesawat angkut pasukan dari jenis Hercules. Dikatakan Menhan jika penambahan pesawat ini tidak dimaksudkan untuk melakukan ekspansi, melainkan untuk meningkatkan pertahanan Indonesia.

Penambahan pesawat ini masih dalam rangka program memodernisasikan alutsista Indonesia dalam lima tahun terakhir dengan anggaran sebesar Rp 150 triliun. Di mana, anggaran tersebut dipecah untuk memodernisasi alutsista terbaru TNI, baik Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan Darat. Saat ini,  peta kekuatan militer Indonesia berada di posisi 15 hingga 19 besar dunia. "Di kawasan Asia Pasific, Indonesia menempati level middle. Sebab, di sana ada kekuatan lain yang belum bisa ditandingi, yaitu Amerika dan Rusia," demikian Menhan mengatakan.

Sedikit membahas tentang wajib militer, Menhan mengatakan, jika di Indonesia ini tidak ada yang namanya wamil. Yang ada hanyalah tentara cadangan. Menurut rencana, Indonesia bakal merekrut kurang lebih 1.000 sampai 2.000 calon tentara cadangan. Nantinya mereka akan dibekali latihan kemiliteran dan menandatangani kontrak. Tenaga cadangan ini dibutuhkan untuk saat-saat genting saat negara membutuhkan penanganan bencana alam non perang. Intinya, jika berbicara perang untuk mempertahankan kedaulatan negara, Indonesia masih tetap mempercayakannya pada pundak para personel TNI.

Hein ter Poorten, Pilot Militer Pertama di Angkasa Nusantara

Hein ter Poorten, Pilot Militer Pertama di Angkasa Nusantara
Pria kelahiran Bogor ini meretas semua ucapan miring mengenai penerbangan dan mencetak sejarah di dalamnya.

Nama Hein ter Poorten dikenal dalam buku pelajaran sejarah Indonesia sebagai Panglima KNIL (Koninklijke NederlandscheIndische Leger) saat Jepang menyerang Hindia Belanda. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa ter Poorten adalah pilot militer pertama yang terbang di langit Nusantara.

Lahir di Buitenzorg (Bogor) pada 21 November 1887 sebagai putra dari pasangan Franciscus Hendricus ter Poorten dan Clasina Ambrosina Kater. Tidak ingin mengikuti jejak ayahnya yang bekerja sebagai kepala pelabuhan, ter Poorten memutuskan masuk militer dan dididik di Belanda.

Awalnya di sekolah kadet Alkmaar, berlanjut ke Akademi Militer Kerajaan Breda, dan lulus sebagai letnan dua artileri pada 25 Juli 1908. Pada tahun itu, Eropa sedang euforia dunia penerbangan. Demo terbang Flyer (Model A) di Perancis telah memacu baik industri atau perseorangan untuk berlomba-lomba membuat dan menerbangkan pesawat terbang.

Sayangnya pihak militer masih tidak terlalu yakin tentang masa depan pesawat terbang, khususnya masalah keamanan yang telah meminta banyak korban pada awal perkembangannya. Tidak berbeda dengan militer Belanda/Hindia Belanda, hanya sedikit petinggi militer yang mau mendukung teknologi baru ini.

Berbeda sikap perwira-perwiranya yang justru bersemangat termasuk ter Poorten. Balon menjadi “mata” bagi artileri, dan sebagai perwira artileri ter Poorten telah memiliki brevet balon, tapi pesawat terbang merupakan hal berbeda dan teramat menarik perhatiannya. Maraknya demonstrasi terbang —termasuk berubahnya pandangan pihak milter— memacu semangatnya untuk masuk sekolah pilot dan mendapatkan brevet penerbang.

Atasannya mendukung walaupun dia terpaksa mengeluarkan uang sendiri untuk belajar karena KNIL tidak memiliki anggaran pada waktu itu. Salah satu sekolah pilot berkualitas, dan mahal, adalah sekolah pilot Bleriot. Lulus dari sana akan mendapatkan brevet prestise Aero Club de France (cikal bakal FAI/Fédération Aéronautique Internationale) dan pilot-pilot ini dibayar tinggi oleh pabrik pesawat untuk menerbangkan pesawat buatannya atau mendemonstrasikan terbang saat pameran kedirgantaraan.

Nama-nama seperti J.F. van Riemsdijk, Clëment van Maasdijk, dan Gijs Küller adalah pilot terkenal asal Belanda lulusan sekolah pilot Bleriot. Yang terakhir bahkan pernah mendemonstrasikan kemampuan terbangnya di Hindia Belanda pada Maret 1911.

Pilot militer pertama
Karena uang terbatas, ter Poorten memilih sekolah pilot Aviator di Antwerpen, Belgia. Harga memang berbanding lurus dengan kualitas. Berbeda dengan sekolah pilot Bleriot yang punya puluhan pesawat dan instruktur berpengalaman, Aviator hanya punya dua unit Farman Biplane, instrukturnya bahkan baru saja meraih brevet seminggu sebelumnya.

Salah satu pesawat itu akhirnya jatuh saat dikemudikan instruktur yang juga ikut tewas. Satu pesawat yang tersisa juga jatuh tak beberapa lama yang menewaskan salah satu siswanya. Aviator bangkrut tapi untungnya, pabrik pesawat Leon de Broucker mengambil alih sehingga pendidikan bisa diteruskan.

Letnan Satu ter Poorten akhirnya mendapat brevet yang diidam-idamkannya pada 30 Agustus 1911 dan menjadikannya sebagai pilot militer Belanda/Hindia Belanda yang pertama. Sebagai pembuktian, pada September 1911 dengan meminjam salah satu pesawat de Broucker Biplane, ter Poorten terbang selama satu setengah jam dari Belgia menuju Lapangan Terbang Pettelaar untuk ikut serta dalam pameran kedirgantaraan militer Belanda.

Keikutsertaanya dalam demonstrasi terbang ini dan prestasi sebagai pilot militer Belanda/Hindia Belanda yang pertama, membuat dirinya dianugrahi penghargaan Order of Orange-Nassau with Sword oleh Kerajaan Belanda.

Situasi Hindia Belanda ketika kepulangan ter Poorten masih diliputi suasana pesimis. Ini dikarenakan banyaknya informasi simpang siur seperti pendapat Kouzminsky yang gagal terbang dengan Bleriot XI di Batavia, menyatakan bahwa kegagalannya disebabkan kondisi tropis dan atmosfernya yang tidak cocok buat penerbangan.

Pendapat tersebut tidak ditelan mentah-mentah dan menganggap kegagalan itu lebih karena ketidakmampuannya. Tapi pendapat bahwa kelembaban tropis mempengaruhi daya tahan konstruksi kayu pada pesawat itu benar adanya. Oleh karena itu, tiga unit Deperdussin yang baru saja sampai, masih dalam peti kemas, dikirim kembali kepada de Broucker untuk menganti konstruksi kayu dengan baja.

Sayangnya proses modifikasi itu bersamaan dengan pecahnya Perang Dunia I sehingga terkatung-katung dan bahkan tak ada kabar sama sekali. Padahal lewat Surat Keputusan No. 39 telah terbentuk Bagian Terbang Percobaan KNIL/Proefvliegafdeling-KNIL (PVA-KNIL) pada 30 Mei 1914. Sebuah organisasi penerbangan militer tapi tak memiliki satu pun pesawat terbang!

PVA-KNIL berinisiatif membeli pesawat baru, tapi Eropa sedang sibuk demi kebutuhan perang. Satu-satunya alternatif adalah membeli dari AS. Komite PVA-KNIL yang terdiri atas Kapten Visscher dan Letnan ter Poorten berangkat ke San Fransisco pada akhir Januari 1915.

Selama tiga bulan berkeliling AS, mereka memutuskan pada tahap pertama membeli dua unit pesawat  tipe (Glenn) Martin TA Hydroplane. Pemilihan pesawat air ini sengaja dilakukan karena bisa dioperasikan tanpa perlu membangun lapangan terbang yang dinilai mahal, merepotkan, dan memakan waktu.

Selama di AS, ter Poorten terus berlatih terbang bahkan sempat memecahkan rekor lama terbang selama 3 jam 25 menit dari Los Angeles menuju San Diego. Ketika ter Poorten sibuk berlatih di AS, di Hindia Belanda, teknisi PVA-KNIL sibuk mempersiapkan bengkel di Tanjung Priok, Batavia.

Pada 18 Oktober 1915, komite tiba di Pelabuhan Tanjung Priok bersama dengan perwakilan dan mekanik Glenn Martin. Kedua pesawat dirakit selama tiga minggu dan pada 6 November 1915, ter Poorten berhasil melakukan penerbangan selama setengah jam dengan membawa penumpang yaitu mekanik Glenn Martin bernama Stevens. Penerbangan ini tercatat sebagai yang pertama di Hindia Belanda yang dilakukan oleh pihak militer.

Tulisan selengkapnya dapat dibaca di Majalah Angkasa edisi Desember 2012.
(Sudiro Sumbodo. Sumber: angkasa.co.id)

Pesawat Tempur Boeing 737 Surveillance Pengintai Terpercaya TNI AU

Pesawat Tempur Boeing 737 Surveillance Pengintai Terpercaya TNI AU
Apabila dilihat dari tampilannya, pesawat jet Boeing 737 Surveillance tidak jauh berbeda dengan pesawat komersial biasa. Namun, jika melihat kemampuannya sangatlah luar biasa. Pesawat tempur kepunyaan TNI AU ini bisa mengamati perairan Indonesia seluas 8,5 juta km persegi dari atas. Dengan kemampuannya itu, tidak mengherankan jika tiga pesawat tempur Indonesia (Boeing 737 Maritime Patrol) yang berbasis di Skadron Udara 5 Pangkalan Udara (Lanud) Hassanuddin, Makassar, ini melakukan pengamatan udara dan air untuk wilayah perairan Indonesia. Ketiganya, secara berganti-gantian mengamati secara sistematik ruang udara, permukaan daratan, maupun perairan, lokasi, atau tempat, sekelompok manusia atau obyek-obyek lain, baik secara visual, aural, fotografis, elektronis, maupun dengan cara lain.

“Tugas kami hanya mendeteksi. Hasil deteksi yang diperoleh disampaikan ke komando atas, yang akan menentukan tindakan selanjutnya. Bila perlu hasil deteksi itu dikoordinasikan dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, Kepolisian RI, atau instansi terkait,” demikian Kapten (Pnb) Sumanto, Komandan Flight Operasi Skadron 5 mengungkapkan. Peran pengamatan udara itu penting bagi Indonesia untuk dapat dimanfaatkan mencegah pengambilan ikan secara ilegal oleh nelayan asing, dan untuk menggagalkan penyelundupan kayu, serta minyak yang sampai sekarang masih marak di perairan Indonesia. Skadron 5 yang berpangkalan di Lanud Hasanuddin, Makassar, menerima tiga Boeing B737-200 2X9 Surveiller untuk menggantikan Grumman UF-1 Albatross. Pesawat berjuluk "Camar Emas" ini diberi registrasi AI-7301, AI-7302, dan AI-7303. Pengiriman pesawat yang dipesan April 1981 ini dilakukan secara maraton mulai dari 20 Mei 1982, 30 Juni 1983, dan 3 Oktober 1983. Dengan bantuan kekuatan tiga pesawat militer Indonesia ini, diharapkan wilayah Indonesia bisa diamankan - sepertiga wilayah Indonesia.

Dari segi performa, Camar Emas tidak kalah garang dengan pesawat tempur pengintai yang sudah lebih dulu terkenal seperti E-8-J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System), E-3 Sentry AWACS, Bariev A-50 Mainstay AWACS, DC-8-72F SARIGUE NG, P-3C Orion atau radar terbang masa datang Australia B737-700 Wedgetail versi New Generation B737 yang dikonversi untuk kepentingan intelijen. Tidak percaya? Intip saja alat pengendus yang diusung. Di moncong hidungnya ada radar double agent AN/APS-504 (V)5. Selain berfungsi konvensional, radar ini bisa diset mendeteksi sasaran di permukaan atau di udara. Jarak pindainya luar biasa, 256 Nm (Nano Meter). Navigasi dan komunikasinya juga kompak. Saat ini B-737 dilengkapi sistem navigasi INS LTN-72R terintegrasi dengan GPS. Karena memainkan peran penting dalam air intelligence, komunikasi tidak saja masuk kategori wajib, tapi juga harus mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi. Untuk B-737, saluran telepon bisa terhubung langsung dengan komando pusat. Tampilan instrumen yang menawan (pilot color high resolution display), makin mempercanggih suasa kokpit.

Senjata Buatan Indonesia: Peluncur Roket NDL-40

Peluncur roket NDL-40 (LAU 97) merupakan senjata buatan Indonesia yang dapat digunakan untuk meluncurkan roket di medan perang hasil produksi PT DI (Dirgantara Indonesia). Senjata Indonesia memakai roket berdiameter 70 mm (2,75 inchi) sebagai pelurunya - roket sistem multi luncur FFAR 2,75, yang juga dibesut PT DI.

Alutsista Indonesia ini juga sanggup meluncurkan roket sebanyak 40 roket langsung dari tabung secara berkesinambungan dalam rentang 0,1 - 9,9 detik untuk setiap roketnya. Ditilik dari kemampuannya, NDL-40 bisa menghancurkan sebuah kawasan seluas 200 x 300 m dalam sekejap mata. Walaupun, daya jangkau senjata ini hanya berjarak 6 km saja, namun dengan roket khusus daya jangkaunya bisa ditingkatkan jadi 8 km.

Peluncur roket ini bisa dikembangkan menjadi Grad 70 untuk senjata TNI (Tentara Nasional Indonesia). Di mana, peluncur ini diletakkan di atas truk, di rentang sayap helikopter NAS 332 Super Puma PT DI, juga dipasang roket launcher NDL-40 untuk versi helikopternya. Juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi Surface to Air Missile TNI AD dan AIM 114 Hellfire NAS 332 TNI AU.

Berikut spesifikasi NDL-40:

Kemampuan:


360 derajat azimuth dan -3 sampai +65 derajat elevasi kemampuan tembak
Back loading dan modular loading system
High mobility dan programmable firing control system
Sistem lihat berjarak hingga lebih dari 6,500 mil
Operasi dan perawatan yang sederhana dan mudah
Fleksibilitas tinggi, penggunaan ground-to-ground atau surface-to-ground

Berat:

Sistem Bidik 4,5 kg
Sistem Peluncur 740 kg
Sistem Kontrol Penembakan Individual 10 kg
Komando Sistem Kontrol Penembakan 2 kg

Ketahanan Peluncur:

Tabung 400 penembakan
Detainer 4000 penembakan
Contactor 4000 penembakan

Sistem Peluncur:

Panjang 3595 mm
Lebar 1995 mm
Tinggi 1600 mm
Panjang Tabung Peluncur 1806 mm

Sistem Pencahayaan:

Panjang 195 mm
Lebar 145 mm
Tinggi 200 mm

Sistem Kontrol Penembakan Individual:

Panjang 265 mm
Lebar 140 mm
Tinggi 150 mm